SIARAN PERS
BADAN RISET DAN INOVASI NASIONAL
Nomor : 64/SP/HM/BKKP/V/2021

Jakarta – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kepala BRIN), Laksana Tri Handoko (LTH) menerima kunjungan kehormatan dari Duta Besar Jepang, Y.M Kanasugi Kenji, Selasa (25/05). Pada kesempatan tersebut, keduanya saling mengungkapkan apresiasi atas kerja sama serta hubungan baik yang telah terjalin antara Indonesia dan Jepang hingga saat ini, khususnya di bidang riset dan inovasi.

“Atas nama pemerintah Indonesia, saya ingin menyampaikan rasa terima kasih atas kerja sama yang telah terjalin selama ini, kami berharap ke depannya Indonesia dan Jepang dapat terus melanjutkan dan meningkatkan kerja sama dengan berbagai mitra yang ada,” ungkap LTH.

Sementara itu, Dubes Kanasugi menilai bahwa Indonesia telah menjadi mitra penting bagi Jepang. Ia mengungkapkan terdapat banyak peneliiti Jepang yang berkunjung ke Indonesia, begitu juga sebaliknya untuk peneliti Indonesia.

“Sebelum pandemi, pada tahun 2019, Jepang mencatat ada sekitar 3600 peneliti Jepang mengunjungi Indonesia dan lebih dari 1000 peneliti Indonesia berkunjung ke Jepang. Indonesia sejauh ini juga telah menjadi salah satu mitra penting bagi Jepang, seperti dalam kerja sama program SATREPS (Science and Technology Research Partnership for Sustainable Development), terdapat 21 proyek yang telah didanai,” jelas Kanasugi.

LTH juga menyampaikan bentuk kerja sama lain yang telah dijalankan oleh kedua negara yakni Japan Society for the Promotion of Science (JSPS) yang selama ini di bawah koordinasi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Selain itu, Indonesia juga memiliki kerja sama visiting professor yang selama ini terus diupayakan dengan berbagai negara termasuk Jepang.

Pada kesempatan itu, LTH mengungkapkan saat ini tengah dilakukan upaya untuk dapat mengkonsolidasikan serta mengintegrasikan lembaga riset pemerintah di bawah kelembagaan BRIN. Ia menilai, akan sangat baik jika kedepannya Indonesia dan Jepang dapat terus membuka peluang kerja sama yang lebih luas bersama BRIN di masa yang akan datang.

Di akhir pertemuan, LTH juga mengusulkan untuk mengaktifkan kembali pertemuan rutin Joint Committee Meeting (JCM) antara Indonesia – Jepang di bidang IPTEK serta pameran terkait program penelitian SATREPS. Hal ini dinilai penting mengingat banyaknya kerja sama yang telah dilakukan dan juga dapat mempererat hubungan kedua negara.

Sebagai informasi, kerja sama antara Indonesia – Jepang didasari oleh Agreement Between the Government of the Republic Indonesia and the Government of Japan on Scientific and Technological Cooperation yang ditandatangani tahun 1981. Dalam kerangka kerja sama IPTEK, telah dilaksanakan dua kali JCM pada tahun 1982 dan 2016, serta beberapa kerja sama lainnya, antara lain:

  • Kerja sama BPPT dengan Daicel Corporation dalam Implementasi Sistem Analisis Senyawa Chiral.
  • Kerja sama LIPI dalam program penelitian bersama, pertukaran expert, dan research-based education yang melibatkan beberapa mitra Jepang diantaranya Tsukuba University, Kobe University, Tsukuba Botanical Garden, dan National Institute of Material Science.
  • Kerja sama BATAN dalam pengembangan Radioisotop dan Radiofarmaka serta teknologi nuklir untuk tujuan damai yang melibatkan beberapa institusi Jepang seperti Japan Atomic Energy Agency, Nippon Advance Information Service (NAIS), Hirosaki University.
  • Kerja sama LAPAN pada program bidang Aerospace yang melibatkan mitra antara lain Japan Aerospace Exploration Agency (JAXA), Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology (JAMSTEC), Electronic Navigation Research Institute of National Institute of Maritime.

Dalam pertemuan tersebut, Kepala BRIN turut didampingi oleh Sekretaris Utama BRIN, Mego Pinandito serta Kepala Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik BRIN, Nada Darmiyanti Sriwijaningrum. Sementara itu dari Pihak Jepang, Y.M Kanasugi Kenji didampingi oleh Diplomat Bidang Hubungan Ekonomi Shimizu Kazukhiko serta Diplomat Bidang Hubungan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Miyazawa Takeshi.

Asido Mac Kenzie, Tri Sundari, Masluhin Hajaz, Nada Darmiyanti S
Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik
Badan Riset dan Inovasi Nasional