SIARAN PERS
KEMENTERIAN RISET DAN TEKNOLOGI/BADAN RISET DAN INOVASI NASIONAL
Nomor: 31/SP/HM/BKKP/III/2021

Jakarta – Rapat Kerja Nasional Penguatan Ekosistem Inovasi Teknologi BPPT Tahun 2021 dengan tema “Peningkatan Peran Pengkajian dan Penerapan Teknologi dalam Mendukung Pemulihan Ekonomi Nasional” resmi dibuka Presiden Joko Widodo. Presiden dalam arahannya menjelaskan Indonesia sebagai negara dengan sumber daya alam melimpah harus mampu melakukan penguasaan dan pemanfaatan akan teknologi secara bijak, sehingga dapat memberikan manfaat maksimal bagi rakyat di masa revolusi industri 4.0 saat ini.

“Kita harus bergeser dari ekonomi yang berbasis komoditi menuju ekonomi yang berbasis inovasi dan teknologi. Kita harus meningkatkan kapasitas kita sebagai produsen teknologi, meningkatkan kedaulatan teknologi kita. Para peneliti, inovator, industriawan Indonesia, semuanya harus bekerja bersama-sama mengembangkan teknologi masa depan, teknologi berbasis revolusi industri 4.0, teknologi hijau yang ramah lingkungan, teknologi yang mensejahterakan rakyat,” jelas Presiden saat di Istana Negara, Jakarta, Senin, (08/03).

Presiden Joko Widodo menekankan beberapa langkah penting yang harus dilakukan BPPT agar bisa menjadi otak pemulihan ekonomi secara extraordinary. Langkah pertama, Presiden menekankan bahwa BPPT harus secara aktif berburu inovasi dan teknologi untuk dikembangkan lebih lanjut dan diterapkan bahkan memasuki tahap komersialisasi. Kedua, BPPT harus mampu menjadi lembaga yang mempunyai strategi akuisisi teknologi maju dari manapun yang dapat diimplementasikan secara cepat.

“Kita harus membuat kerja sama teknologi di Indonesia, yang melibatkan para teknolog Indonesia sehingga transfer pengetahuan dan pengalaman itu berjalan. Perintah ini bukan hanya untuk BPPT tetapi kepada seluruh jajaran kabinet,” ujar Presiden Joko Widodo.

Terakhir, Presiden Joko Widodo berpesan BPPT harus menjadi pusat kecerdasan teknologi Indonesia dalam persaingan menguasai Artificial Intelligence (AI) dengan mensinergikan talenta-talenta Indonesia di dalam maupun luar negeri. “Saya berharap BPPT bisa menjadi lembaga extraordinary, terus menemukan cara-cara baru, cara-cara inovatif dan kreatif, menghasilkan karya nyata yang kontributif untuk kemajuan bangsa,” tutup Presiden.

Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/BRIN) Bambang PS Brodjonegoro menegaskan selain pentingnya ekonomi berbasis inovasi adalah upaya bersama terus menerus untuk meningkatkan penggunaan produk dalam negeri. Menurut Menteri Bambang, penggunaan produk dalam negeri harus disikapi dengan dua pendekatan, pertama produk dirakit dalam negeri dan yang kedua produk yang dibuat di dalam dengan menggunakan lokal konten yang besar.

“Kita ingin yang kedua, karena yang pertama itu proses manufaktur, rakitan, assembly di Indonesia. Tentunya kita tidak ingin hanya bermain di hilirnya, kita harus semakin ke hulu. Jadi kalau biasanya kita jargonnya adalah hilirisasi hasil riset tapi dalam hal penggunaan produk dalam negeri justru yang kita pikirkan bagaimana kita bisa ke hulu dalam pengertian dari desainnya, produk development-nya,” papar Menristek/Kepala BRIN saat menjadi Keynote Speaker dalam rangkaian pembukaan Rakernas BPPT 2021 di Auditorium Soemitro Djojohadikoesoemo, Gedung BJ Habibie II.

Menteri Bambang menambahkan dalam tahapan melakukan product development pun ada yang basisnya RnD sesuatu yang benar-benar baru, dan ada juga yang sifatnya reverse engineering. Menurut Menteri Bambang dengan reverse engineering pemahaman akan suatu teknologi, tidak hanya sekedar tahu, atau sekedar bisa meniru teknologi tersebut, namun lebih dari itu dapat menjadi pondasi dalam melakukan sesuatu yang baru.

“Di sinilah urgensi penggunaan produk dalam negeri menjadi penting, peran BPPT melalui analisis dan rekayasa teknologi terutama peningkatan TKDN tidak hanya di manufaktur (hilir) namun juga pada RnD (hulu). Hulu ini menjadi kritikal, sehingga kemampuan BPPT dalam pengkajian dan penerapan semakin sentral,” tambah Menteri Bambang.

Di sisi lain Audit Teknologi BPPT menjadi bagian yang sangat penting melihat perkembangan kemampuan teknologi yang perlu diadopsi dari luar negeri. Menurut Menteri Bambang diperlukan suatu strategi dalam penguasaan teknologi melalui audit teknologi sehingga teknologi yang diadopsi nanti adalah sesuatu yang akan dipakai seterusnya dikemudian hari dan sesuai dengan daya saing yang diharapkan. Tentunya Indonesia sebagai negara besar jika ingin ekonomi stabil maka tidak boleh bergantung terlalu besar terhadap produk impor.

“Dalam kaitannya untuk kebijakan moneter, neraca perdagangan ada dua cara yang dapat dilakukan yaitu tingkatkan ekspor atau kurangi impor. Meningkatkan ekspor tidak mudah dilakukan karena perlu melihat kebutuhan pasar internasional, mengurangi impor bukan berarti mengurangi pembeliannya namun kita mensubtitusi kebutuhan produk impor dengan produk dalam negeri. Jadi subtitusi impor dalam hal ini sangat didorong sebagai upaya kita untuk Peningkatan Penggunaan Produk Dalam Negeri (P3DN),” ucap Menteri Bambang.

Pada kesempatan yang sama, Kepala BPPT Hammam Riza dalam laporannya mengatakan BPPT sebagai salah satu lembaga penyelenggara Iptek di bawah koordinasi Kemenristek/BRIN mempunyai fungsi strategis dalam meningkatkan pengusaan teknologi dan menghasilkan inovasi. Dengan dukungan Menristek/Kepala BRIN yang menjalankan orkestrasi litbangjirap untuk menghasilkan invensi dan inovasi, oleh itu BPPT bertugas menguatkan ekosistem inovasi teknologi khususnya didelapan bidang fokus teknologi yang selaras dengan Prioritas Riset dan Inovasi Nasional.

“Rapat kerja BPPT 2021 bertujuan untuk merencanakan dan menjalankan program inovasi Indonesia yang strategis fokus dan terukur dengan mengedepankan reformasi birokrasi melalui budaya kerja transformasi digital. Rapat ini juga menetapkan penguatan peran pengkajian dan penerapan teknologi melalui pengembangan sumber daya manusia yang berkarakter, terampil dan siap bekerja keras dengan semangat BPPT yang solid, smart, dan speed,” terang Hammam Riza.

Dalam acara Rakernas yang diselenggarakan secara daring dan luring tersebut turut hadir Sekretaris Kabinet Pramono Anung, jajaran Pejabat Eselon I dan II Kemenristek/BRIN, jajaran Pejabat I dan II BPPT, Pimpinan LPNK di bawah koordinasi Kemenristek/BRIN (LIPI, LAPAN, BATAN, BAPETEN, BSN, LBM Eijkman), Pimpinan Kepala Badan/Lembaga undangan, dan tamu undangan serta stakeholder terkait lainnya.

Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik
Kementerian Riset dan Teknologi/Badan Riset dan Inovasi Nasional
dan
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi