Jakarta – Humas BRIN, Pusat Peragaan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (PP-IPTEK) merupakan salah satu Badan Layanan Umum (BLU) di bawah koordinasi Kemenristek. Dengan terintegrasinya Kemenristek ke dalam Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) maka sejak tanggal 1 September 2021, PP-IPTEK menjadi bagian dari BRIN dengan nama Pusat Sains BRIN.

Hal ini disampaikan Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko di hadapan Komisi VII DPR RI pada rapat dengar pendapat di Gedung Nusantara, Jakarta, Senin (24/01/2022). Selama ini PP-IPTEK berdiri di atas lahan milik Kementerian Sekretaris Negara yang dikelola oleh pihak Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

PP-IPTEK yang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 20 April 1991 dilengkapi dengan sejumlah alat peraga yang dibuat oleh para tenaga ahli dari beberapa ex LPNK yakni LIPI, BATAN, dan BPPT. Di PP-IPTEK tersedia sarana pembelajaran iptek yang memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk melihat dan mempelajari rahasia dan gejala alam yang diperagakan.

Terhadap pengelolaan PP-IPTEK sebagai BLU, Handoko dan tim telah melakukan evaluasi secara mendalam, dan diperoleh fakta bahwa setiap tahun PPIPTEK mengalami kekurangan (minus) sebesar 15 milyar. Hal ini menurut Handoko, semestinya tidak boleh terjadi pada sebuah BLU.

“Seharusnya BLU itu tidak mengalami minus, oleh karena itu untuk pengelolaannya kami mencoba memakai mekanisme kemitraan mitra operator dengan pihak swasta yang bisa melakukan tugas dan fungsi yang sama dengan memakai infrastruktur yang ada,” kata Handoko.

Melalui mekanisme ini, Handoko memastikan fungsi layanan PP-IPTEK selama ini kepada masyarakat tetap berjalan. PP-IPTEK setelah berintegrasi dengan BRIN akan berubah nama menjadi Pusat Sains BRIN.

Handoko berharap, melalui Pusat Science BRIN ini, masyarakat tetap mendapatkan layanan yang selama ini didapatkan dari PPIPTEK. “Setidaknya dengan skema ini, dipastikan bahwa tugas dan fungsi PP-IPTEK selama ini dapat berjalan tanpa membebani pemerintah,” harapnya. (Pur)

Sebarkan