Jakarta – Humas BRIN. Fasilitasi pengujian produk inovasi menjadi upaya dalam mempercepat hilirisasi dan komersialisasi hasil riset dan inovasi. Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko menjelaskan masih banyak hasil-hasil riset yang berhenti pada tahap publikasi. Hal ini terjadi karena tidak adanya fasilitasi pengujian produk, yang memerlukan investasi dana dan sumber daya yang besar.

Menurutnya, masih ada gap antara periset dan industri yang perlu dijembatani. Permasalahan periset umumnya banyak terbentur ketika hasil riset tidak diadopsi oleh industri. Sementara tidak semua industri juga mampu mengadopsi hasil riset, karena memiliki resiko kegagalan dan juga butuh investasi yang besar.

“Skema fasilitiasi pengujian produk inovasi ini merupakan langkah BRIN untuk mempercepat hilirisasi hasil riset yang bisa menjadi inovasi yang tidak hanya terbukti secara ilmiah tapi mampu memenuhi kaidah regulasi,” ungkap Handoko saat membuka acara Webinar Fasilitiasi Pendanaan Riset dan Inovasi (Walidasi) dengan topik “Sosialisasi Program Fasilitasi Pengujian Produk Inovasi Pertanian”, Rabu (22/6).

Handoko menjelaskan BRIN dengan sumber daya yang ada saat ini, baik sumber daya periset, infrastruktur dan anggaran bisa memfasilitasi dan membantu periset dalam melakukan pengujian hasil riset sesuai standar yang berlaku. Di sisi lain juga, memfasilitasi resiko industri dalam melakukan pengujian produk inovasi.

“Ini yang kami nantinya akan lisensikan ke industri. Sehingga bisa mendapatkan produk yang dijadikan produk bisnis, tanpa melakukan investasi untuk pengujian tadi, dengan biaya besar. Kami berharap fasilitasi ini akan bisa menghilangkan secara total ketersendatan lubang risiko yang selama ini dialami dalam menghilirisasi produk hasil riset yang bernilai ekonomi,” jelasnya.

Plt Deputi Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN Agus Haryono menyebutkan pihaknya sudah membuka skema pengujian produk inovasi kesehatan, beberapa waktu lalu, yang sudah dibuka dua gelombang. Selanjutnya, hari ini, pihaknya membuka secara resmi skema pengujian produk inovasi pertanian.

“Tahun 2023, kami merencanakan untuk membuka skema pengujian produk inovasi teknologi industri yang fokus pada produk pesawat, satelit dalam lingkup lebih besar. Kalau memang ada pengujian inovasi lain, kami siap berdiskusi dan menunggu masukan terkait skema yang belum terwadahi oleh skema yang ada, sehingga dapat memfasilitasi riset dan inovasi,” bebernya.

Dengan adanya skema ini, Agus berharap akan banyak produk hasil riset yang terbukti secara ilmiah dan juga memenuhi regulasi, sehingga produk dapat dikomersialisasikan. Dengan demikan, hasil riset tidak berhenti di publikasi, tapi juga sampai ke hilir, dan dikomersialkan untuk mendapatkan produk yang bermanfaat bagi masyarakat.

Plt Deputi Bidang Pemanfaatan Riset dan Inovasi BRIN R Hendrian menyebutkan fasilitasi pengujian produk inovasi ini merupakan skema baru yang dilakukan oleh BRIN untuk mempercepat hilirisasi hasil riset. Selain harus scientific well proven, semua hasil riset agar dapat dihilirisasi juga harus diterima dan dibutuhkan oleh pasar. Oleh sebab itu, kemitraan dengan industri menjadi sebuah keharusan.

“Percepatan hilirisasi hasil riset dan inovasi, harus terbukti secara ilmiah juga harus memenuhi proses uji dan standar yang berlaku, dan secara komersil diterima pasar. Pertimbangan ini menjadi penting dalam proses hilirisasi hasil riset,” pungkasnya. (jml)

Sebarkan