
Jakarta-Humas BRIN. Jalur Rempah tidak hanya meninggalkan jejak perdagangan komoditas, tetapi juga membentuk lanskap sosial, budaya, politik, dan pengetahuan masyarakat. Kajian arkeologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menunjukkan bahwa mobilitas manusia dan perdagangan rempah turut membentuk permukiman, migrasi, pertumbuhan kota pelabuhan, serta keragaman komunitas di Kepulauan Maluku.
Kepala Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban (PRKKP) BRIN, Wuri Handoko, mengatakan perubahan tersebut terlihat antara lain di Ternate dan Tidore. Perdagangan dan mobilitas manusia mendorong berkembangnya permukiman pesisir yang dihuni berbagai komunitas dari Jawa, Sumatra, Sulawesi, Cina, Arab, hingga Eropa.
“Jalur Rempah” dengan demikian tidak hanya menunjukkan pergerakan komoditas, tetapi juga menggambarkan migrasi, pertukaran budaya, pembentukan identitas, serta negosiasi kekuasaan yang membentuk masyarakat Maluku hingga saat ini,” ujar Wuri.
Menurut Wuri, jejak perjumpaan berbagai kelompok sosial dan budaya tersebut dapat dilihat melalui peninggalan berupa permukiman, makam kuno, masjid, kelenteng, benteng, keramik, tembikar, serta berbagai unsur arsitektur.
Di Ternate, misalnya, berkembang sejumlah permukiman yang menunjukkan keberadaan komunitas pendatang, seperti Kampung Jawa, Kampung Arab, Kampung Cina, Kampung Sumatera atau Palembang, dan Kampung Makassar. Perubahan lanskap tersebut juga berkaitan dengan perkembangan Islamisasi serta interaksi antara masyarakat lokal dan pendatang.
Temuan tersebut memperlihatkan bahwa Jalur Rempah dapat dipahami sebagai ruang perjumpaan yang menghasilkan pertukaran pengetahuan, budaya, dan pengalaman. Perspektif tersebut menjadi salah satu konteks dalam International Forum on Spice Route (IFSR) ke-8 tahun 2026 yang berlangsung secara hibrida pada 21–24 September 2026 di Jakarta dan Makassar.
Dari Jalur Komoditas ke Pengetahuan Bersama
Deputi Bidang Koordinasi Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Warsito, mengatakan Jalur Rempah merupakan sistem konektivitas yang sejak masa lalu mempertemukan berbagai masyarakat melalui perdagangan, pelayaran, diplomasi, migrasi, dan pertukaran pengetahuan.
“Jalur rempah tidak hanya berfungsi sebagai rute perdagangan bersejarah, tetapi juga sebagai sistem negosiasi, navigasi, pengetahuan pelayaran, diplomasi, dan ketangguhan maritim,” ujarnya.
Menurutnya, tema IFSR 2026, “Dari Rute Komoditas Menuju Pengetahuan Bersama: Membayangkan Kembali Jalur Rempah di Era Krisis Iklim, Transformasi Digital, dan Masa Depan Dekolonial,” memperluas pemaknaan Jalur Rempah dari perspektif sejarah menuju isu kontemporer, seperti perubahan iklim, transformasi digital, ekologi, dan kedaulatan pengetahuan.
Rempah juga merupakan bagian dari warisan biokultural yang berkaitan dengan berbagai praktik kehidupan masyarakat, mulai dari ritual, kuliner, pengobatan tradisional, kerajinan, seni pertunjukan, hingga pengetahuan yang diwariskan lintas generasi. Mobilitas manusia di sepanjang jalur maritim turut membentuk keragaman bahasa, agama, makanan, tradisi, arsitektur, dan jaringan sosial masyarakat Indonesia.
Karena itu, pengembangan Jalur Rempah perlu melibatkan pemerintah, lembaga riset dan akademik, komunitas lokal, praktisi budaya, seniman, generasi muda, dan masyarakat sipil. Kolaborasi tersebut dapat diarahkan pada pelestarian ekologi, adaptasi perubahan iklim, bioekonomi berkelanjutan, penguatan kedaulatan rempah, hingga kerja sama riset dan repatriasi digital.
“Menjaga warisan ini bukan hanya tentang melestarikan masa lalu, tetapi juga tentang memperkuat karakter generasi masa depan,” tegas Warsito.
Indonesia-Tiongkok dan Jaringan Pengetahuan
Perspektif Jalur Rempah sebagai ruang pertukaran pengetahuan juga disampaikan Xu Liping, Senior Research Fellow dan Direktur Center for Southeast Asian Studies, National Institute of International Strategy (NIIS), Chinese Academy of Social Sciences (CASS).
Ia menilai Jalur Rempah merupakan warisan pertukaran antarperadaban yang menghubungkan masyarakat melalui barang, pengetahuan, budaya, dan gagasan. Hubungan historis Indonesia dan Tiongkok menunjukkan bahwa jalur tersebut telah menjadi jaringan interaksi maritim selama berabad-abad.
Cengkeh, pala, dan kayu cendana dari Kepulauan Maluku, misalnya, bergerak melalui jalur laut menuju pelabuhan-pelabuhan Tiongkok. Sebaliknya, porselen, teh, dan sutra bergerak menuju berbagai wilayah di Asia.
Menurut Xu Liping, warisan konektivitas tersebut dapat dihidupkan kembali untuk menjawab tantangan masa kini, termasuk fragmentasi perdagangan global, ketimpangan, perubahan ekologis, dan kesenjangan pengetahuan.
Dalam konteks Indonesia-Tiongkok, kerja sama dapat dikembangkan dalam berbagai bidang, seperti pelestarian mangrove dan terumbu karang, pemantauan karbon biru, energi terbarukan, sistem peringatan dini bencana iklim, serta penguatan teknologi dan tata kelola digital.
Transformasi digital juga membuka peluang dalam pengembangan e-commerce lintas batas, pembayaran digital, kota pintar, kecerdasan buatan, infrastruktur digital, serta pengembangan sumber daya manusia.
Dengan demikian, transformasi Jalur Rempah dari jalur komoditas menuju knowledge commons bukan berarti meninggalkan sejarah, melainkan menghidupkan kembali nilai keterbukaan, pertukaran, kepercayaan, dan pembelajaran bersama.
“Untuk bergerak dari jalur komoditas menuju pengetahuan bersama, kita harus meningkatkan pertukaran barang menjadi berbagi pengetahuan, dan mengubah memori sejarah menjadi masa depan bersama,” tegas Xu Liping. (ajn, suhe/ed. mfs)