IDEN

Detail Berita

BRIN Perkuat Riset dan Standardisasi Manufaktur Peralatan Industri Hasil Tembakau

Diterbitkan pada 29 Januari 2026

Jakarta – Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus memperkuat riset dan inovasi manufaktur peralatan Industri Hasil Tembakau (IHT), sebagai basis pengembangan industri yang berbasis sains dan risiko. Penguatan tersebut menjadi bagian penting dalam mendukung kebijakan yang seimbang antara inovasi, keselamatan, dan keberlanjutan industri.

Periset Pusat Riset Teknologi Manufaktur Peralatan BRIN, Bambang Prasetya, mengatakan riset berperan sentral dalam membangun sistem standardisasi dan penilaian kesesuaian yang menjadi fondasi pengembangan peralatan industri.

“Berdasarkan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2014, bahwa standardisasi dan penilaian kesesuaian itu harus ada risetnya,” katanya, dalam Seminar “Peluang dan Tantangan Inovasi pada Industri Olahan Tembakau dan Dukungan Kebijakan Berbasis Risiko”, di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Kamis (29/1).

Ia menjelaskan industri hasil tembakau merupakan salah satu sektor strategis nasional karena berkontribusi signifikan terhadap perekonomian, dengan target cukai (CHT) yang sering melampaui Rp230 triliun per tahun. Kondisi tersebut menunjukkan perlunya penguatan riset agar inovasi manufaktur peralatan yang dikembangkan dapat mendukung daya saing industri sekaligus memenuhi aspek keamanan dan kesehatan.

Bambang memaparkan perkembangan riset terkait pengujian dan standardisasi peralatan untuk produk tembakau alternatif, seperti rokok elektrik dan produk tembakau yang dipanaskan. Riset tersebut dilakukan untuk memahami karakteristik produk, kandungan, serta kinerja peralatan yang digunakan dalam proses produksi.

Sebagai bagian dari riset, BRIN melakukan pemetaan sosial ekonomi dan kesehatan, serta pengujian sampel produk di lapangan. Pengujian dilakukan terhadap 63 sampel di wilayah Jabodetabek dengan mengacu pada sembilan parameter toksikan yang direkomendasikan oleh World Health Organization (WHO).

“Adanya penurunan sekitar 88 persen potensi risiko sembilan toksikan pada produk tembakau yang dipanaskan dibandingkan produk konvensional, meskipun penelitian ini masih memiliki keterbatasan,” jelasnya.

Sebagai rencana tindak lanjut dari riset yang telah dijalankan, turut dikembangkan metode sampling yang sesuai dengan budaya konsumsi rokok elektrik dan konvensional di tengah masyarakat. Serta pengembangan aplikasi telusur pembelian produk tembakau yang menjadi salah satu langkah mitigasi, guna mengawasi penggunaan produk tembakau yang tidak sesuai dengan umur pengguna.

Dalam pengembangan riset manufaktur peralatan IHT, Bambang menekankan pentingnya pendekatan yang seimbang antara peluang dan risiko. Menurutnya, riset berperan sebagai instrumen untuk memastikan arah inovasi tetap terkendali dan berbasis bukti ilmiah.

Meski demikian, Bambang menegaskan hasil riset tetap harus dibaca secara hati-hati dan tidak digunakan sebagai dasar klaim tanpa dukungan instrumen dan metode yang terstandardisasi. Oleh karena itu, pengembangan alat uji, material referensi, dan metode pengujian menjadi fokus riset lanjutan.

“Penelitian boleh dilakukan, tetapi tidak bisa dibanding-bandingkan kalau alat dan metodenya belum terstandardisasi,” pungkasnya.

Ke depan, BRIN mendorong agar riset dan inovasi manufaktur peralatan IHT juga diarahkan untuk mendukung hilirisasi dan pengembangan produk tembakau bernilai tambah. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat ekosistem riset dan industri yang adaptif, berbasis sains, dan bertanggung jawab. (rng/ed: tnt)