IDEN

Detail Berita

BRIN dan Krida Wana Lestari Sepakati Riset Konservasi dan Restorasi Ekosistem Mangrove Segara Anakan di Cilacap dan Pangandaran

Diterbitkan pada 6 Juli 2024

Cibinong-Humas BRIN. Indonesia memiliki hutan mangrove atau bakau mencapai 20,37% dari total dunia. Luasan itu menjadikan Indonesia sebagai negara dengan hutan mangrove terluas di dunia.

Segara Anakan merupakan salah satu ekosistem mangrove di Indonesia, terletak di antara Pulau Nusakambangan dan Pulau Jawa dan berupa laguna yang dihubungkan dengan dua outlet atau pintu yaitu Plawangan Timur (Cilacap, Jawa Tengah) dan Plawangan Barat (Pangandaran, Jawa Barat).

Laguna Segara Anakan atau Segara Anakan Lagoon (SAL) merupakan muara dari banyak sungai terutama sungai Citanduy, Cikole, Cibeureum, dan Cikode sehingga dipengaruhi berbagai faktor dari darat. Selain itu, kawasan ini memiliki keanekaragaman jenis mangrove yang tinggi dan habitat bagi berbagai jenis biota laut dan darat.

Keberadaan SAL tidak terlepas dari ancaman, utamanya adalah ancaman antropogenik meliputi penebangan mangrove, alih fungsi lahan untuk pertanian dan lainnya, sedimentasi yang menyebabkan pendangkalan dan penyempitan badan air, invasive species, dan pencemaran.

Berdasarkan kompleksitas ekosistem dan ancaman yang ada maka kawasan Segara Anakan (SAL) merupakan lokasi penelitian, pengembangan, dan inovasi terkait ekologi mangrove, restorasi dan konservasi mangrove, pengelolaan dan pemanfaatan ekosistem mangrove, dan pemberdayaan masyarakat di sekitar ekosistem mangrove.

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama mitra sudah sejak lama mulai melakukan penelitian di SAL dan penelitian intensif di SAL dilakukan sejak tahun 2019. Berbagai penelitian dan inovasi di SAL diharapkan dapat di scale up ke level daerah dan nasional bahkan internasional. Namun berbagai tantangan riset dan inovasi dihadapi terutama untuk riset jangka panjang dan untuk mewujudkan SAL sebagai stasiun riset dan inovasi restorasi dan konservasi mangrove.

Menanggapi tantangan dan peluang tersebut maka diperlukan kolaborasi antar pemangku kepentingan di tingkat lokal dalam hal ini adalah Krida Wana Lestari (KWL) dengan Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi (PREE), BRIN. Kerjasama tersebut fokus pada riset konservasi dan restorasi ekosistem mangrove serta pendampingan terhadap masyarakat disekitarnya terutama dalam percobaan atau penerapan hasil riset dan inovasi.

“Sebetulnya kegiatan ini sudah dimulai tahun 2019, karena ada saling kepercayaan  dan saling memerlukan sehingga  dinaikkan menjadi sebuah perjanjian kerja sama. Tentu dengan adanya kerjasama ini penelitian-penelitian yang dibangun harus betul-betul memberikan manfaat yang nyata untuk kelompok tani KWL,” ungkap Kepala Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi (PREE) Asep Hidayat, dalam sambutannya pada acara penandatanganan Perjanjian Kerja Sama antra Pusat Riset Ekologi dan Etnobiologi BRIN dengan Kelompok Tani Krida Wana Lestari secara daring pada Jum’at (5/7).


Menurut Asep, periset memerlukan data untuk kepentingan kelompok tani KWL dan tentu kelompok tani juga memerlukan output yang positif untuk pengelolaan mangrove yang ingin dikelola.  Sehingga untuk melakukan kegiatan itu harus ada dukungan dalam segala hal. Dukungan teman-teman di lapangan menyediakan lokasi untuk melakukan penelitian begitu juga periset harus memiliki tanggungjawab supaya kerjasama ini tetap berkelanjutan.

Dirinya mengatakan, beberapa areal mangrove yang dikelola kelompok tani KWL akan ditingkatkan melalui sistem pengelolaan yang akan dibangun oleh tim PREE menggunakan radar atau citra satelit juga dengan menggunakan drone sehingga jelas pengelolaannya dan kedepan bisa jauh lebih efektif.

Lebih jauh Asep menjelaskan, pengembangan terkait dengan Segara Anakan mungkin akan lebih menyebar tidak hanya di areal yang dikelola KWL, tetapi akan menyebar dibeberapa kabupaten yang berkoneksi.

“Perjanjian kerjasama ini bukan akhir dari semua kegiatan tetapi awal untuk saling merekatkan persamaan persepsi antara PREE dengan kelompok tani KWL. Tidak kalah penting nilai tambah dari kerjasama ini perlu diungkap, salah satunya pengembangan produk turunan dari berbagai macam produk yang bisa dikreasikan dan biodiversity di mangrove perlu diungkap,” ucap Asep mengakhiri sambutannya.

Pada kesempatan yang sama, Thomas Heri Wahyono Ketua Krida Wana Lestari menyampaikan ucapan terimakasih kepada BRIN. ”Terimakasih sudah mempercayai kami untuk diajak kerjasama. Mudah-mudahan kerjasama yang akan dilakukan selama lima tahun  dan mudah-mudahan bisa lebih dari lima tahun tidak mengecewakan BRIN dan menghasilkan hal yang baik untuk kami  maupun BRIN,” ujar Thomas. (ew/ed.sl)