
Tangerang Selatan - Humas BRIN. Implementasi reaktor nuklir di Indonesia dibutuhkan untuk mendukung net zero emission. Kepala Pusat Riset Teknologi Daur Bahan Bakar Nuklir dan Limbah Reaktor (PRTDBBNLR) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Syaiful Bakhri, menyampaikan, dengan mengetahui potensi uranium di Indonesia, akan mendukung rencana pembangunan reaktor berdaya 36 MWe pada 2060.
“Perlu juga dikaji adanya potensi uranium di daerah-daerah Indonesia. Tentunya, diperlukan riset yang mendalam dan akurat, agar kita semakin siap saat Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) dibangun di Indonesia,” tegas Syaiful, dalam Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Peluang Riset Sumber Daya Mineral sebagai Material Pendukung Pengembangan Bahan Bakar Nuklir", secara daring, Selasa (19/12).
“Reaktor ini butuh bahan bakar, salah satunya adalah uranium. Tentunya diperlukan riset untuk mengetahui potensi uranium di Indonesia serta sumber daya mineral penting lainnya,” ujarnya.
Sementara itu, Koordinator Mineral, Pusat Sumber Daya Mineral, Batubara, dan Panas Bumi - Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Moehamad Awaludin, mengatakan, perlunya peningkatan pengembangan mineral kritis untuk memenuhi industri-industri strategis yang akan dibangun.
“Termasuk rencana pemerintah yang akan mulai membangun PLTN pada 2025 hingga 2029,” ungkapnya.
Menurutnya, untuk mengantisipasi kekurangan pasokan cadangan mineral kritis beberapa tahun ke depan, pemerintah perlu memprioritaskan kegiatan untuk menyiapkan Wilayah Izin Usaha Pertambangan (WIUP) mineral utama pembawa mineral kritis. Termasuk, material pendukung pengembangan bahan bakar nuklir, seperti Logam Tanah Jarang (LTJ), nikel, timah, bauksit, dan lain-lain.
“Serta memperkuat greenfield exploration dengan penugasan kepada Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun swasta,” tuturnya.

Kondisi geologi Indonesia, jelas dia, sangat memungkinkan terbentuknya akumulasi mineral kritis dan strategis pendukung pengembangan bahan bakar nuklir. “Bahkan, di beberapa daerah sudah ada yang memiliki sumber daya mineral dan cadangannya,” tandasnya.
Dalam kesempatan ini, Himawan Tri Bayu Murti Petrus dari Universitas Gadjah Mada (UGM) menekankan perlunya mengenal dan memahami karakter mineral yang ada di Indonesia. Karakter mineral di suatu daerah dapat berbeda dengan mineral yang ada di daerah lainnya.
“Juga dalam risetnya, membutuhkan teknologi yang berbeda,” katanya.
Menurut Himawan, yang harus menjadi perhatian adalah bagaimana mengenal karateristik dari raw mineral yang ada. “Ketika kita bicara mengenai mineral processing, tidak serta-merta teknologi yang kita miliki akan langsung bisa diaplikasikan untuk karakter mineral yang ada di Indonesia,” katanya.
“Sukses di suatu negara misalnya Australia, belum tentu bisa diaplikasikan di Indonesia. Pemahaman akan raw material sangat diperlukan agar bisa menetapkan proses yang paling efektif,” tambah dia.
Dirinya juga menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah, investor, perguruan tinggi, industri dan organisasi, maupun lembaga penelitian nonpemerintahan dalam melahirkan inovasi baru dan mengimplementasikannya.
“Diperlukan sinergi pentagon. Tidak hanya dalam hal inovasi, namun juga bagaimana kita mengimplementasikan inovasi tersebut,” pungkasnya. (rdh, yrt/ed:my, tnt)