
Bandung - Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Mekatronika Cerdas (PRMC) memiliki fokus riset, salah satunya riset yang berkenaan dengan pertanian cerdas atau lebih dikenal dengan smart farming.
Peneliti Ahli Madya PRMC BRIN Hanif Fakhrurroja mengatakan, istilah smart farming dimulai dari industri 4.0 hingga saat ini di era industri agrikultur 5.0. Pada era ini mulai menggunakan robotik, kita dapat melihat banyak tanaman yang ditanam otomatis, diberi penyiraman otomatis, dan lainnya. Seperti kita ketahui bahwa kebanyakan tanaman jauh dari sumber listrik dan menggunakan energi dari sel surya.
"Kembali pada definisi smart farming, di mana sejak 4.0 muncul konsep manajemen pertanian, sehingga bukan hanya cara menanamnya namun juga manajemen pertaniannya, mulai dari bercocok tanam, menabur benih, proses pemberian pupuk, hingga panen," ucapnya, pada Bincang Sains Kawasan Bandung Garut (Bisaan Bangga), dengan tema "Smart Farming: Penerapan, Tantangan, dan Peluang", Senin (10/4).
Lebih lanjut dirinya menjelaskan bahwa yang membedakan di antara agrikultur sebelumnya dari 1.0 hingga 3.0, yaitu menggunakan teknologi modern untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produk pertanian.
"Teknologi modern yang digunakan scanning untuk kualitas karakterisasi tanah, misalnya ketika akan menanam cabai, dapat diketahui apakah tanah tersebut memiliki cukup nutrisi untuk tanaman cabai. Sehingga, kita harus melihat scanning dari tanamannya dengan menggunakan sensor-sensor dan peralatan," jelasnya.
Hanif menekankan, pada manajemen data di era 5.0 ini, data merupakan sumber utama. Tanpa data tidak mungkin dapat menghasilkan permodelan intelijen dan machine learning, kemudian akses GPS, dan mulai ada penggabungan antara teknologi internet of things (IoT) dan artificial intelligence (AI).
Saat ini di Indonesia, beberapa tempat terutama pada lahan sempit telah menggunakan smart farming, misalnya dengan pemberian air secara otomatis.
"Pengalaman kami sebelumnya adalah pengembangan pemberian pupuk pada tanaman cabai secara otomatis, dengan alat berupa sensor nitrogen, fosfor, dan kalium (NPK), sensor kelembaban tanah, pengukur pH, dan konduktivitas," ucap Hanif.
Dia menuturkan bahwa data-data seperti nutrisi, kelembaban tanah, dan pH diolah dengan menggunakan AI, sehingga bisa menggerakkan aktuator atau pompa yang secara otomatis telah diisi pupuk dan disiramkan melalui model irrigation drip atau dapat menggunakan value feeding.
"Dari hal tersebut beberapa hasil dapat meningkatkan kualitas. Hal ini didukung oleh sensor kesuburan tanah dan sensor penyakit. Kemudian dapat diberikan treatment sehingga tidak menular pada tanaman yang lain. Data-data tersebut dikirim ke sebuah server kemudian dapat diakses dengan menggunakan aplikasi android," jelasnya.
Pada perkotaan yang biasanya menggunakan lahan sempit, ulas Hanif, biasanya menggunakan hidroponik dalam menanam berbagai macam tumbuhan, seperti cabai, anggur, melon atau buah-buahan, dan sayur-sayuran. "Melalui smart farming yang digunakan, data-data nutrisi dan pertumbuhannya dapat dipantau," tuturnya.
Konektivitas merupakan salah satu hal yang penting dalam penerapan smart farming. Ini digunakan untuk mengirimkan data dari sensor ke server, kemudian diolah dengan menggunakan machine learning, sehingga dapat memberikan treatment yang tepat.
"Namun, di beberapa daerah biasanya jangkauan internet dan infrastruktur mungkin saja belum merata. Mudah-mudahan seiring majunya bangsa ini, era smart farming bisa mulai dikembangkan di beberapa pedesaan," harapnya.
Hanif menuturkan kolaborasi riset yang telah dilakukan dengan beberapa perguruan tinggi sebelumnya. "Pada riset yang kami lakukan yaitu ada dua hal. Pertama, pada sistem irigasi otomatis yang bertujuan untuk efisien pemberian air nutrisi sehingga pas. Sensor NPK dan sensor kelembaban tanah untuk menggerakkan aktuator pompa dari nutrisi tanah pun diberikan sesuai dengan kebutuhannya. Men-set kebutuhan tersebut berdasarkan karakterisasi kualitas tanah yang di awal, kebutuhan tanaman tiap minggu, dan tiap bulannya berbeda, sesuai dengan kebutuhannya," tegasnya.
Selanjutnya adalah pada manajemen risikonya untuk mengontrol apakah tanaman tersebut sehat dengan menggunakan CCTV yang memantau ulat atau hama di dalam tanaman, sehingga dapat terdeteksi tanaman di sekitarnya jika mulai ada penyakit.
"Jadi sebelum penyakit tersebut menyebar, kita dapat mengetahuinya sehingga dapat diberikan treatment. Selain itu juga pemberian pupuk yang pas, yang disebut dengan istilah precision agriculture," tandasnya. (kg/ ed: tnt)