
Pontianak - Humas BRIN. Fenomena Kulminasi Matahari yang membuat bayangan benda tidak terlihat menjadi fenomena unik Antariksa yang terjadi tiap tahunnya. Seperti yang terjadi di Kota Pontianak yang letaknya kotanya dilintasi garis khatulistiwa, fenomena Kulminasi Matahari menjadi fenomena tahunan yang dijadikan tradisi oleh pemerintah daerah setempat.
Kulminasi Matahari menjadi momentum edukasi antariksa pada masyarakat dan di saat yang sama menjadi wahana wisata yang tidak bisa dilewatkan jika sedang berkunjung ke Pontianak. Seperti yang hari ini, Selasa, 21 Maret 2023 dilakukan di Tugu Khatulistiwa, Kota Pontianak.
Peneliti Sains Antariksa BRIN, La Ode Muhammad Musafar menyebutkan fenomena kulminasi ini sebenarnya sebagai momentum untuk mengingat bahwa hal tersebut tidak hanya berhubungan dengan sains astronomi tetapi juga sains antariksa atau cuaca antariksa.
"Kulminasi adalah fenomena ketika Matahari tepat berada di posisi paling tinggi di langit. Pada saat itu, Matahari akan tepat berada di atas kepala pengamat atau di titik zenit. Akibatnya, bayangan benda tegak akan terlihat menghilang karena bertumpuk dengan benda itu sendiri," ujar Musafar.
Peneliti kawasan Pontianak tersebut menambahkan karena itu, hari kulminasi dikenal juga sebagai hari tanpa bayangan. Seremoni kulminasi tidak hanya terbatas pada tradisi saja tetapi bisa menggambarkan masyarakat Pontianak terhadap bidang astronomi dalam aspek sains maupun pariwisata.
Perayaan ini bersifat unik di Indonesia karena hanya wilayah Pontianak yang dilewati garis Khatulistiwa dan tepat berada di wilayah kota. Sementara di daerah maupun belahan dunia lain, garis khatulistiwa tidak ada yang melewati persis di wilayah perkotaan.

"Partisipasi BRIN
telah menjadi bagian rutin dan menjadi tradisi masyarakat Pontianak dari
kegiatan peringatan kulminasi matahari untuk memberikan edukasi dan observasi
matahari kepada masyarakat Pontianak," lanjut Musafar.
Musafar mengatakan, kulminasi bukanlah hal yang asing lagi bagi masyarakat khususnya di Pontianak. Hari tanpa bayangan atau kulminasi matahari menjadi peristiwa tahunan yang terjadi akibat revolusi bumi mengitari matahari. Pada saat kulminasi sumbu rotasi tegak lurus terhadap bidang orbit sehingga arah datang sinar matahari tegak-lurus terhadap permukaan bumi di daerah ekuator.
Selama periode ekuinoks ini intensitas sinar matahari yang memanaskan atmosfer-atas Bumi menjadi lebih besar dibandingkan musim lainnya. Ini menyebabkan lapisan ionosfer mengalami ionisiasi lebih banyak.
Peningkatan jumlah ionisasi ini dapat mempengaruhi dinamika atmosfer-atau ionosfer serta menggerakkan arus ionosfer menjadi lebih kuat ataupun menginduksi medan magnet arah utara-selatan lebih besar. Menguatnya arus ionosfer dapat menimbulkan gangguan pada komunikasi radio
Festival Kulminasi Matahari kembali digelar di Tugu Khatulistiwa Pontianak. Karena berdekatan dengan awal Ramadan, festival kali dibuat lebih meriah dengan tema Ramadan.
Kepala Dinas Kepemudaan, Olah Raga dan Pariwisata Kota Pontianak Rizal Almumtahar, menyebutkan fenomena tanpa banyangan ini terjadi jika benda berdiri tegak tepat berada di bawah garis Khatulistiwa. Fenomena ini menjadi daya tarik untuk mengundang para wisatawan nusantara maupun mancanegara, ujarnya saat membuka kegiatan Festival Kulminasi Matahari.
"Karena berdekatan festival kali ini kami bungkus juga untuk menyambut bulan Ramadhan 1444 hijriah. Festival bertajuk Pesona Kulminasi Matahari ini mengusung tema Berkah Ramadan dari Kita Untuk Kita," tambah Rizal.
Ia menambahkan, selain observasi dan pengenalan fenomena kulminasi oleh BRIN, festival ini juga menampilkan tarian khas daerah, dan fashion show bagi masyarakat.
"Dengan adanya even Pariwisata Pesona Kulminasi Matahari ini, diharapkan dapat memberikan dampak yang baik bagi semua lapisan masyarakat," tutup Rizal Almuntahar. (msr-fmg/ed: akb)