Cibinong, Humas BRIN. Sebagai badan riset kebanggaan Indonesia, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memiliki banyak fasilitas infrastruktur riset. Adalah Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) yang terletak di Kompleks Cibinong Science Center – Botanical Garden (CSC-BG) di Cibinong, Kabupaten Bogor yang merupakan pusat depositori nasional kekayaan fauna berupa beragam koleksi spesimen fauna dari seluruh Indonesia. Sedangkan koleksi yang  dipamerkan untuk umum berada di museum pameran di dalam area Kebun Raya Bogor, di Jl. Ir. Haji Djuanda No. 9 Bogor.

Saat ini MZB dikelola oleh Pusat Riset Biologi BRIN. Koleksi spesimen yang disimpan di MZB adalah koleksi rujukan berstandar internasional dan merupakan salah satu aset yang sangat penting dan berharga bagi Negara Indonesia. Tugas utama Pusat Riset Biologi BRIN menambah jumlah dan merawat koleksi rujukan fauna tersebut.

Sebagaimana koleksi rujukan, aset yang sangat berharga tersebut menjadi sarana yang dapat diakses oleh para peneliti dari dalam dan luar BRIN. Peningkatan layanan untuk kebutuhan riset nasional berupa spesimen ini tidak saja dapat diakses secara fisik tetapi telah terdigitalisasi sehingga lebih mudah bagi pengguna. Oleh sebab itu pengelolaan yang bertanggung jawab akan terus dilakukan.

Pengelolaan spesimen koleksi fauna di MZB selama ini sudah memenuhi standar pengelolaan museum internasional. “Pelaksanaan pemrosesan spesimen sampai penyimpanan pun sudah mengikuti petunjuk atau buku panduan Pengelolaan Koleksi Zoologi (2006) dan baru-baru ini diberlakukan Prosedur dan Instruksi Kerja Pengelolaan Koleksi Spesimen fauna MZB sesuai dengan ISO 9001: 2008 (2013),” jelas Koordinator Pengelola Koleksi MZB, Nova Mujiono, pada Jum’at (14/01).

Museum Zoologicum Bogoriense (MZB) didirikan oleh seorang ahli zoologi pertanian berkebangsaan Jerman J.C Koningsberger pada tahun 1894 yang bertugas mengoleksi dan meneliti serangga pada tanaman pertanian di Kebun Raya Bogor. Pada perkembangan selanjutnya, MZB ini mengalami kemajuan yang pesat seiring dengan bertambahnya koleksi.

Saat ini MZB telah memiliki 2.853.473 spesimen, jumlah ini akan terus bertambah setiap tahunnya seiring dengan penambahan koleksi yang berasal dari aktivitas riset dan ini akan menjadikan MZB sebagai Museum Fauna dengan koleksi ilmiah yang terbesar di Asia Tenggara.

Per 5 Oktober 2021, MZB telah mengoleksi beberapa kelompok spesimen yaitu 42.617 mamalia, 37.429 burung (aves), 26.268 ikan, 32.648 amfibi, 22.441 reptilia, 24.819 moluska, 5.617 krustasea, 2.644.839 serangga, 1319 endoparasit acari,  12.001 ektoparasit, 2.673 collembola 144 chilopoda, dan 658 diplopoda.

Spesimen yang ada di MZB diawetkan dengan dua cara, yaitu spesimen kering dan spesimen basah. Spesimen kering dapat berbentuk kulit, bulu, dan tulang, sedangkan spesimen basah dapat berupa tubuh utuh atau organ dalam yang direndam dalam alkohol 70%. Kedua tipe pengawetan spesimen tersebut disimpan dengan cara berbeda.

Nova menjelaskan bahwa ada cara-cara tertentu dalam merawat serta menyimpan koleksi yang ada di MZB. “Ada Beberapa tahap yang harus dilalui dalam proses penyimpanan koleksi spesimen. Pertama, tahap penerimaan spesimen hasil eksplorasi. Meliputi pencucian dan mengganti label, memberi pengawet alkohol dan menyimpannya dalam botol spesimen. Tahap kedua diproses dengan mengidentifikasi spesimen oleh peneliti hasilnya ditulis di label dan buku katalog, selanjutnya data spesimen dimasukkan dalam database dan yang tahap terakhir spesimen disimpan di ruang koleksi,” papar Nova yang juga Peneliti Pusat Riset Biologi BRIN.

“Koleksi spesimen fauna ini diperoleh dari berbagai cara, antara lain dari hasil eksplorasi peneliti ke seluruh wilayah NKRI, pemberian dari Lembaga atau masyarakat seperti kolektor, titipan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam, atau bahkan barang sitaan dari karantina hewan,” tutur Nova

Spesimen yang disimpan sebagai referensi fauna Indonesia terdiri dari dua macam spesimen, yaitu spesimen tipe dan spesimen umum. Spesimen tipe adalah spesimen yang dipakai sebagai acuan dalam mendeskripsikan suatu jenis satwa. Spesimen tipe juga terbagi menjadi berbagai kategori, yaitu holotipe, paratipe, sintipe, dan neotipe.

Holotipe adalah spesimen tipe yang paling penting karena spesimen ini merupakan spesimen utama dalam pendeskripsian jenis, sedangkan kategori tipe yang lain merupakan pelengkap. Spesimen umum memiliki nilai yang penting karena informasi dari koleksi ini dapat menggambarkan daerah sebaran satwa dan ekosistemnya.Seiring dengan perkembangan teknologi molekuler, MZB juga memiliki koleksi DNA fauna lndonesia. Koleksi DNA ini sangat penting karena fungsinya tidak hanya sebagai pendukung proses identifikasi satwa, tetapi juga dapat menjadi alat pemetaan sumber daya genetika yang sangat akurat. Oleh karena itu, DNA menjadi penting tidak hanya terbatas dalam keilmuan taksonomi yang menjadi kompetensi utama MZB, tetapi juga dalam bidang aplikasi konservasi dan pemanfaatan kehati. Kegiatan koleksi material DNA di MZB dimulai sejak tahun 1997. (ew ed sl)