SIARAN PERS
BADAN RISET DAN INOVASI NASIONAL
Nomor : 65/SP/HM/BKKP/V/2021

Jakarta – Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), L.T. Handoko mengadakan pertemuan koordinasi untuk membahas kerja sama luar negeri di lingkungan BRIN, Senin (24/5). Pertemuan dibuka oleh Sekretaris Utama Mego Pinandito yang menyampaikan tujuan dari acara adalah untuk koordinasi dan sinergi kegitan kerja sama luar negeri di lingkungan BRIN.

Pada kesempatan ini, Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik (KSKP) BRIN dan biro yang menangani kerja sama luar negeri dari LAPAN, LIPI, BATAN dan BPPT turut diundang dan memberikan paparan serta update kerja sama luar negeri di masing-masing institusi.

Mengawali presentasi, Kepala Biro KSKP, Nada Marsudi menyampaikan informasi terkini kerja sama bilateral, regional dan multilateral di BRIN. Informasi yang disampaikan cukup padat mengingat BRIN menjadi payung bagi kerja sama luar negeri bidang iptek dan inovasi di Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) bahkan Kementerian dan Lembaga lainnya.

“Saat ini terhitung ada lebih dari 15 Negara yang aktif menjalin kerja sama dengan BRIN, di antaranya adalah Amerika Serikat, Jepang, Korea Selatan, Republik Rakyat Tiongkok, Perancis, India, Iran, Belarus, Australia, Austria, Turki, Belanda, Irlandia, Armenia, Viet Nam dan Filipina,” jelas Nada mengawali presentasinya.

Lebih lanjut Nada menambahkan bahwa untuk mengawal dan memonitor pelaksanaan kerja sama bilateral, ada skema Pertemuan Komite Bersama di Bidang Iptek dan Inovasi yang secara rutin dilaksanakan setiap tahun atau dua tahun sekali sesuai dengan kesepakatan antar negara.

“Dalam implementasi kerja sama bilateral yang di antaranya berupa kerja sama riset bersama, pertukaran peneliti atau para ahli serta bentuk kerja sama lainnya, terdapat program andalan dari setiap negara, misalnya Program Nusantara dengan Perancis, Program Science and Technology Research Partnership for Sustainable Development (SATREPS) dengan Jepang, Program Newton Fund dengan Inggris dan lainnya,“ terang Nada.

Sedangkan untuk kerja sama regional dan multilateral, BRIN secara aktif menjadi anggota dan perwakilan Indonesia di ASEAN Committee on Science, Technology and Innovation (COSTI), APEC Policy Partnership on Science, Technology and Innovation (PPSTI), Center for Science and Technology of the Non-Aligned and Other Developing Countries (NAM S&T Center), International Institute for Applied Systems Analysis (IIASA), Science and Technology in Society (STS) Forum, G20, Organisasi Kerjasama Islam (OKI) serta beberapa organisasi internasional lainnya.

Kerja Sama Penerbangan dan Antariksa

Mengawali presentasinya, Kepala Biro Kerja Sama, Humas dan Umum Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN), Chris Dewanto menyampaikan bahwa Negara yang menjadi mitra strategis kerja sama di bidang penerbangan dan antariksa di antaranya Amerika Serikat, Jepang, RRT, India, Korea Selatan, Inggris dan Perancis.

“Implementasi dan manfaat dari kerja sama bilateral yang telah dilakukan di antaranya adalah peningkatan kemampuan ( capacity building) bagi para peneliti/perekayasa LAPAN dalam penguasaan teknologi stasiun bumi untuk pengendalian satelit, mempunya akses ke satelit mitra untuk melakukan tracking objek antariksa, transfer teknologi, kegiatan riset bersama serta keuntungan teknis lainnya,” terang Chris.

Kerja Sama Ilmu Pengetahuan

Sebagai salah satu Lembaga penelitian tertua di Indonesia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) telah banyak mempunyai kerja sama dengan mitra di luar negeri.

“Pada kurun waktu 2018-2020 tercatat tujuh puluh sembilan naskah kerja sama bilateral yang telah ditandatangani oleh LIPI dengan rasio iplementasi kerja sama lebih dari 70%,” jelas Mila Kencana Kepala Biro Kerja Sama, Hukum dan Humas. Lebih lanjut Mila menerangkan bahwa untuk kerja sama bilateral, Jepang unggul dengan jumlah kerja sama sebanyak dua puluh enam kegiatan bersama.

“Adapun bentuk kerja sama yang dilakukan meliputi hibah dan joint fasilitas, peningkatan kapasitas, konferensi ilmiah, pertukaran peneliti, ekspedisi, beasiswa, publikasi serta visiting scholar,”terang Mila.

Mitra kerja sama LIPI juga beragam, mulai dari lembaga riset pemerintah, perguruan tinggi, industri, badan Perserikatan Bangsa-Bangsa, dan lainnya. Sedangkan kerja sama regional dan multilateral, dengan adanya hasil evaluasi yang dilakukan oleh Kementerian Luar Negeri dimana kontribusi keanggotaan pada beberapa organisasi internasional yang diampu oleh LIPI selanjutnya tidak dibiayai dari anggaran Kemlu, maka LIPI akan melakukan evaluasi kembali terhadap keanggotaan yang dinilai paling dapat memberikan manfaat maksimal.

Kerja Sama Ketenaganukliran

Kepala Biro Hukum, Humas dan Kerja Sama, Heru Umbara menjelaskan di awal presentasinya tentang pengakuan internasional terhadap kompetensi Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) yang meliputi the 2018, 2019 Forum for Nuclear Cooperation in Asia (FNCA) Excellent Research Team of the Year serta beberapa program dari International Atomic Energy Agency (IAEA) seperti Technical Cooperation Program, Collaborating Center, Fellowship serta lead country coordinator project di kawasan Asia.

“Salah satu program kerja sama dengan IAEA adalah NUclear TEChnology for Controlling Plastic Pollution (NUTEC), di mana pertemuan tingkat tingginya dipimpin oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan,”terang Heru.

“Saat ini Indonesia telah mempunyai reaktor yang dapat dioperasikan berbasis internet. Reaktor Kartini yang berada di Yogyakarta berhasil dioperasikan melalui Wina,” Heru menerangkan bangga.

Untuk kerja sama bilateral, BATAN telah mempunyai kerja sama di antaranya dengan Amerika Serikat, Rusia, Jerman, Republik Korea, Argentina, India, Australia, Pakistan, Inggris, dan Italia. Sedangkan untuk kerja sama regional dan multilateral, selain dengan IAEA, BATAN juga anggota dari Food and Agriculture Organization of the United Nations (FAO).

Kerja Sama Penerapan Teknologi

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi dalam menjalankan salah satu fungsinya sebagai lembaga pengkajian & penyusunan kebijakan nasional di bidang pengkajian dan penerapan teknologi juga aktif dalam melakukan kerja sama dengan mitra luar negeri.

“Mitra kerja sama bilateral BPPT di antaranya adalah Jepang, Inggris, Brunei Darussalam, RRT, Thailand, Swedia,” jelas Chaidir Kepala Biro Hukum, Kerja Sama dan Humas. “Selain itu BPPT juga aktif sebagai focal point di beberapa organisasi internasional seperti The Institute of Marine Engineering, Science and Technology (Imarest), Subsonic Aerodynamic Testing Association (SATA) dan The Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC),” imbuhnya.

Mengakhiri pertemuan koordinasi, Kepala BRIN Handoko menyampaikan arahan pelaksanaan kerja sama luar negeri ke depan agar dilakukan dengan memperbanyak skema global platform.

“Melalui skema global platform ini diharapkan akan menarik banyak global talents untuk melakukan kerja sama di Indonesia,” ungkap Handoko.

Selain itu, Indonesia juga harus berperan aktif untuk membantu negara yang tingkat kemajuan iptek dan inovasi di bawah Indonesia dengan memanfaatkan skema yang ada di Kementerian Luar Negeri. Misalnya menyelenggarakan pelatihan tema tertentu di Indonesia, sehingga peserta dari mitra luar negeri juga akan mendapatkan pengalaman kehidupan tinggal di Indonesia; selain belajar yang terkait bidang keilmuannya.

“Terakhir, saya sampaikan terkait keanggotaan Indonesia pada organisasi internasional sebaiknya disesuaikan dengan prioritas nasional dan yang memberikan manfaat optimal,” terang Handoko. “Jika kontribusi keanggotaan harus dibayarkan oleh instansi penjuru, kita harus memperbanyak keuntungan Indonesia dalam berbagai bentuk, tidak harus dalam bentuk cash, melainkan juga berupa global engagement pada fasilitas riset yang dimiliki Indonesia, seperti kapal riset, stasiun angkasa, STP, dll.,” jelasnya lebih lanjut.

Tri Sundari, Nada Marsudi
Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik
Badan Riset dan Inovasi Nasional