(Jakarta, 12/10/2021) Komisi Informasi Pusat melakukan monitoring dan evaluasi (Monev) secara daring terhadap pelaksanaan keterbukaan informasi publik (KIP) di Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Senin (10/10). Pelaksanaan monitoring dan evaluasi ini bertujuan untuk memastikan seluruh badan publik telah melaksanakan amanat Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik dengan baik.

Komisioner Komisi Informasi Pusat, Cecep Suryadi, bertindak selaku tim evaluasi mengatakan, pelaksanaan monev KIP ini dilakukan secara rutin setiap tahun yang dimulai dengan penyampaian kuesioner dan dilanjutkan presentasi terkait pelaksanaan KIP oleh badan publik. Melalui presentasi ini, badan publik dapat menyampaikan temuan atau inovasi dalam pelaksanaan KIP di setiap badan publik.

“Bagaimana strategi yang dilakukan BRIN agar semua temuan atau inovasi dapat diketahui dan dijalankan oleh stakeholder atau pengguna,” kata Cecep.

Selain itu, Cecep ingin mengetahui inovasi yang dilakukan BRIN dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. Melalui inovasi yang berbasis digital hendaknya tidak menghalangi masyarakat yang ingin memperoleh informasi tentang BRIN.

Dijelaskan Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko dalam presentasinya, BRIN merupakan lembaga pemerintah yang baru dibentuk yang saat ini merupakan gabungan dari lima entitas lembaga yakni LIPI, BATAN, BPPT, LAPAN, dan RISTEK. 

“Saat ini BRIN sedang melakukan integrasi terkait Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID) dari kelima entitas termasuk mengintegrasikan juga semua kanal informasi yang ada,” kata Handoko.

Kanal informasi yang dimiliki BRIN saat ini, lanjut Handoko, berupa website lembaga, media sosial seperti facabook, twitter, instagram, dan youtube, serta portal layanan lainnya. Pengelolaan media sosial di masing-masing entitas tetap aktif, namun ada kekhususan di setiap entitas.

“Kita tidak memutus kanal-kanal informasi yang ada selama ini, justru dengan integrasi ini semua sarana informasi dan layanan yang ada akan memperkuat kapasitas BRIN,” lanjut Handoko.

Dengan adanya kanal informasi dan layanan yang dimiliki BRIN, tutur Handoko, dapat memudahkan para pengguna layanan atau masyarakat secara umum mengakses dan memanfaatkan layanan. Selama pandemi covid 19 ini, layanan BRIN semakin meningkat dengan adanya inovasi layanan berbasis digital.

“Selain delivery informasi yang cepat, juga semakin efisien dalam memberikan layanan,” ujarnya.

Handoko mencontohkan layanan internet reactor laboratory (IRL) merupakan layanan praktikum mengoperasikan reaktor Kartini telah dapat diikuti oleh peserta dari mancanegara. IRL ini sangat diminati oleh para mahasiswa yang sedang melakukan praktikum fisika nuklir, bahkan telah didemonstrasikan di markas badan tenaga nuklir internasional atau International Atomic Energy Agency.

Agar penyampaian informasi terus berjalan, BRIN secara rutin mengemas konten infirmasi dan disampaikan kepada masyarakat dalam bentuk seminar online, talk show, dan lainnya. “Karena kegiatannya dilakukan secara online maka jumlah peserta bisa lebih banyak dari seluruh wilayah Indonesia,” imbuhnya.

Sebagai lembaga penelitian yang baru dan terbesar di Indonesia, menurut Handoko banyak tantangan yang harus dihadapi di masa mendatang. Terutama di masa pandemi ini, melalui teknologi, BRIN dituntut untuk mempercepat mendiseminasi hasil-hasil kegiatan dan memudahkan masyarakat untuk mengakses informasi.

Handoko bertekad akan terus melakukan perbaikan dengan berbagai inovasi dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat. “Kami akan terus melakukan perbaikan dan penyesuaian terhadap pelaksanaan KIP baik secara teknis maupun kebikakan,” pungkasnya.