Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan World Resources Institute (WRI) Indonesia mengadakan rangkaian lokakarya bagi peneliti kehutanan untuk peningkatan kapasitas. Penggunaan aplikasi Artificial Intelligence (AI) di Indraja untuk memantau hutan menjadi materi utama rangkaian acara webinar dan lokakarya

Jakarta, 19 November 2021 – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Organisasi Riset Penerbangan dan Antariksa (ORPA) bekerja sama dengan WRI Indonesia menyelenggarakan webinar dan lokakarya virtual bertajuk “International Conference & Workshop on Artificial Intelligence Remote Sensing for Forestry Applications” untuk meningkatkan kapasitas para peneliti kehutanan di Indonesia. WRI adalah sebuah lembaga penelitian yang fokus pada isu lingkungan dan sumber daya alam. Dengan fokus terhadap kecerdasan buatan, acara ini memberikan kesempatan bagi para peneliti untuk bertukar informasi dan pengetahuan dari para ahli pengindraan jauh (indraja) dari Indonesia dan mancanegara.

Topik-topik yang dibahas dalam rangkaian acara yang berlangsung pada 17 dan 18 November 2021 ini meliputi metode analisis data, penggunaan kecerdasan buatan dalam indraja, aplikasi indraja dalam pemantauan lahan, penilaian tingkat bahaya alam, serta teknologi dan teknik Geographic Information System (GIS).

Plt. Deputi Bidang Sumber Daya Manusia IPTEK BRIN, Edy Giri Rachman Putra mengatakan, bahwa data berbasis satelit sangat diperlukan untuk memantau kebakaran hutan, deforestasi, dan alih fungsi lahan untuk perkebunan kelapa sawit. “Kita telah mencapai hasil yang signifikan dalam pengelolaan hutan melalui teknologi indraja. Ke depannya, pengembangan teknologi ini diharapkan dapat memberikan manfaat bagi seluruh sektor di Indonesia. Untuk mengakomodasi hal tersebut, kerja sama internasional perlu untuk ditingkatkan,” ujarnya.

Direktur WRI Indonesia, Nirarta Samadhi menyampaikan bahwa topik yang dibawakan dalam acara ini selaras dengan misi global untuk menangani krisis iklim melalui Solusi Berbasis Alam. “Webinar dan lokakarya hari ini merupakan sebuah kontribusi bagi upaya mewujudkan tata guna hutan dan lahan yang lebih baik, sebagaimana tertuang pada Deklarasi Glasgow. Hal ini dapat berperan besar untuk mengurangi emisi dan menjaga kenaikan temperatur Bumi di bawah 1,5 °C,” ujarnya.

Sejalan dengan hal tersebut, Plt. Kepala ORPA, Erna Sri Adiningsih menggarisbawahi pentingnya kolaborasi dalam meningkatkan kapabilitas dan kapasitas indraja berbasis satelit di Indonesia. “Memperkuat triple-helix, yaitu pemerintah, institusi penelitian dan pengembangan, serta entitas bisnis, adalah tanggung jawab kita semua. Penguatan kolaborasi antara ketiganya dapat memperkuat layanan indraja menjadi lebih cepat dan akurat,” ujarnya.

Indonesia telah berhasil menurunkan angka deforestasi dari tahun 2016-2020. Tantangan selanjutnya adalah mempertahankan capaian tersebut, demi terwujudnya pengelolaan hutan dan lahan yang lestari. Pencapaian target ini tidak terlepas dari penguatan sistem pemantauan, pelaporan, dan verifikasi pada sektor kehutanan. Teknologi indraja dapat membantu secara signifikan melalui penyediaaan informasi yang akurat tentang tutupan lahan dan perubahannya.

Penggunaan teknologi indraja untuk kehutanan tidak hanya dapat menunjang sektor-sektor terkait, tetapi juga bermanfaat dalam pengembangan kebijakan berbasis sains. “Kami sangat mendukung acara ini, karena pendekatan spasial sangat dibutuhkan dalam riset dan inovasi terkait kebijakan pembangunan rendah karbon serta kebijakan lingkungan lainnya. Hal tersebut bertujuan untuk memberikan pemahaman tentang karakter setiap wilayah di Indonesia,” ujar Perencana Muda Bappenas, Pungky Widiaryanto.

Melalui rangkaian kegiatan ini diharapkan dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kualitas produk operasional indraja demi menghasilkan data yang akurat dan bersaing, serta mengurangi ketergantungan Indonesia pada teknologi dari luar negeri. Dengan demikian, para aktor dalam bidang penelitian dan pengembangan kehutanan di Indonesia dapat membantu dan mendorong formulasi kebijakan di sektor kehutanan yang lebih baik. (Rj)