Jakarta – Humas BRIN, Sejak 1 September 2021 lalu, 5 entitas utama riset di Indonesia, yakni BATAN, LAPAN, LIPI, BPPT, dan Kemenristek/BRIN telah terintegrasi ke Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Integrasi ini juga termasuk di dalamnya terdapat Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman yang selama ini berada di bawah Kemenristek. Kepala BRIN, Laksana Tri Handoko pada wawancara dengan MNC, Senin (03/01) menegaskan, integrasi LBM Eijkman ke BRIN akan memperkuat pengembangan vaksin Covid-19.

Dirinya menjelaskan, dengan bergabungnya LBM Eijkman ke BRIN, yang  saat ini telah menjadi Pusat Riset Biologi Molekuler Eijkman (PRBM) BRIN, justru akan memperkuat pengembangan vaksin Covid-19, maupun yang sifatnya layanan, seperti surveilans mutasi varian Covid-19 berbasis Whole Genome Sequencing.

Ia mengatakan, pengembangan vaksin Covid-19 juga dilakukan LIPI yang sekarang telah terintegrasi ke dalam BRIN. Sehingga, dengan terintegrasinya LBM Eijkman ke BRIN akan memperkuat pengembangan vaksin Covid-19.

“Apalagi dalam waktu dekat, sebagian periset Balitbang Kemenkes juga akan bergabung ke dalam BRIN, maka ini akan semakin memperkuat pengembangan vaksin Covid-19,” tuturnya.

Lebih detail, Handoko menuturkan, LBM Eijkman bukan sebagai lembaga resmi pemerintah, namun hanya sebagai salah satu unit proyek di bawah Kemenristek, yang sudah berjalan hampir 30 tahun sejak tahun 1992. Integrasinya Kemenristek ke BRIN berarti juga melembagakan LBM Eijkman menjadi PRBM Eijkman di bawah naungan BRIN.

“Jadi itu salah satu prioritas saya untuk melembagakan Eijkman ini. Karena itu adalah problem sejak dulu, dan saya tidak ingin itu diwariskan ke berikutnya,” ucapnya.

Ia pun memberikan klarifikasi bahwa BRIN tidak pernah menonaktifkan periset. Menurutnya, justru saat LBM Eijkman menjadi unit proyek di Kemenristek, sehingga PNS periset di LBM Eijkman sebelumnya tidak bisa jadi peneliti.

“Saat di LBM Eijkman, mereka (PNS periset) sama seperti tenaga administrasi. Jadi mereka tidak pernah bisa mendapatkan hak-hak finansial, misalnya sebagai periset. Nah, dengan adanya integrasi kelembagaan ini, saya bisa langsung melakukan itu, dan itu sudah saya lakukan. Sebagian besar PNS Eijkman yang memang periset sudah saya angkat sebagai pejabat fungsional peneliti BRIN,” tegasnya.

Handoko juga menegaskan, integrasi ini juga tidak mengganggu kerja sama dengan pihak-pihak lain, karena  BRIN  saat ini memililki banyak skema kerja sama yang justru akan menarik pihak-pihak lainnya, baik dari industri maupun sesama lembaga riset, baik di dalam maupun luar negeri.

“Jadi tidak semata ingin mendapatkan proyek pihak ketiga lalu kita yang mengerjakan. Karena kita punya anggaran yang cukup kuat untuk bisa mendukung proyek kolaborasi riset bersama, baik yang sifatnya nasional maupun internasional,” jelasnya.

Terkait dengan adanya isu campur tangan politik di dalam kebijakan BRIN, Handoko pun tegas membantahnya. Sebagai pimpinan tertinggi di BRIN, ia melihat dari aspek teknokratis, bagaimana ia harus mengelola lembaga riset ini dan secepat mungkin memperbaiki, memperkuat ekosistem riset dan inovasi, bukan hanya di BRIN, namun di Indonesia secara keseluruhan.

“Riset itu kompetisinya secara global. kalau critical mass-nya saja rendah, baik dari sisi SDM, anggaran, maupun infrastruktur, bagaimana bisa berkompetisi? Dengan konsolidasi ke dalam BRIN, critical mass kita langsung naik. Saya bisa mendukung riset apa saja sekarang tanpa banyak kendala,” pungkasnya. (tnt/ ed: drs).