Jakarta – Humas BRIN, Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Laksana Tri Handoko memastikan proses integrasi lembaga riset dari kementerian/lembaga (K/L) ke dalam BRIN tidak akan menghambat kegiatan riset yang sedang berjalan. Hal ini disampaikan Handoko saat wawancara dengan salah satu media massa secara daring, Jakarta, Kamis (13/01/2022).

BRIN sebagai lembaga riset yang dibentuk berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 33 Tahun 2021 yang kemudian direvisi menjadi Perpres Nomor 78 Tahun 2021 tentang Badan Riset dan Inovasi Nasional, akan mengintegrasikan seluruh lembaga riset di Indonesia termasuk yang ada di Kementerian. Proses integrasi tahap 1 telah dilakukan terhadap 5 entitas riset utama di Indonesia yakni, BATAN, LAPAN, LIPI, BPPT, dan Kemenristek pada tanggal 1 September 2021.

“Saat ini kita telah memasuki proses integrasi tahap 2 untuk kementerian/lembaga yang telah dilakukan pada 16 Desember 2021 sebanyak 28 K/L dan sisanya sebanyak 6 K/L diharapkan pada 31 Januari 2022 ini selesai,” ujar Handoko.

Ia menegaskan, selama proses integrasi, semua kegiatan riset di eks K/L yang bergabung dengan BRIN tetap berjalan seperti semula dan menyelesaikan semua target yang telah ditetapkan. Adapun fokus riset yang dilakukan BRIN pada tahun 2022 pada penanganan Covid-19 khususnya Vaksin Merah Putih dan pengembangan alat deteksi non PCR. 

Terkait perkembangan riset Vaksin Merah Putih, Handoko menjamin bahwa dengan integrasi ini tidak akan mempengaruhi jalanya riset Vaksin Merah Putih, justru akan semakin baik.  “Kegiatan riset Vaksin Merah Putih tetap berjalan dan itu menjadi target saya, jadi saya pastikan berjalan dan fokus menyelesaikan target yang telah ditetapkan. Justru dengan integrasi ini tim Vaksin Merah Putih semakin kuat karena SDMnya bertambah dan dukungan infrastruktur juga semakin baik,” tegas Handoko.

Proses integrasi ini, papar Handoko, merupakan upaya untuk meningkatkan critical mass riset di Indonesia yang selama ini masih rendah. Selama ini yang menjadi permasalahan fundamental pada riset di Indonesia adalah terbatasnya SDM unggul, infrastruktur yang kurang memadai, dan pendanaan yang terbatas.

Dengan terintegrasinya seluruh lembaga riset di Indonesia maka secara otomatis jumlah SDM unggul meningkat, infrastruktur menjadi lengkap, dan pendanaan juga bertambah. Pada akhirnya integrasi ini dapat meningkatkan critical mass riset di Indonesia.

Ia merinci alokasi anggaran BRIN untuk 2022 sebesar 6,1 T yang sebagian besarnya untuk melengkapi infrastruktur riset. “Pendanaan ini akan dialokasikan sebagian besar untuk riset dan infrastruktur, sebanyak 2,1 T untuk belanja pegawai, 2,2 T untuk infrastruktur riset, 1 T untuk kegiatan riset, dan sisanya untuk operasional,” rincinya. 

Infrastruktur riset menurut Handoko masih menjadi prioritas untuk dilengkapi, karena ini menjadi bagian penting dari setiap kegiatan riset. (pur)