Jakarta, Humas BRIN – Badan Riset dan Inovasi Nasional memastikan eks peneliti lembaga eijkman akan direkrut sesuai dengan mekanisme yang berlaku. Hal itu ditegaskan oleh Kepala BRIN Laksana Tri Handoko saat melakukan wawancara virtual dalam program Good Morning Jakarta di salah satu stasiun televisi swasta nasional, Selasa (4/1).

Menurutnya, ada 71 orang peneliti yang berstatus honorer di eks LBM Eijkman, sebagian diantaranya yang sudah memiliki kualifikasi pendidikan S3. Mereka langsung direkrut menjadi ASN, dan saat ini sudah diproses.

Sementara bagi yang belum S3, mereka menjadi asisten periset, akan diberikan opsi untuk melanjutkan studi dengan skema riset asistensi. Hal ini untuk meningkatkan kualifikasi mereka menjadi S3, sehingga bisa menjadi periset penuh di BRIN.

“Secara langsung peneliti terdampak mereka tidak bisa diangkat menjadi peneliti dan diberikan hak finansial penuh. Maka sampai kapan ini berjalan. Apalagi banyak yang statusnya honorer, dimana mereka makismal mendapat kontrak satu tahun dan tidak punya kepastian hukum. Langkah yang dilakukan saat ini, kami tempatkan pada koridor yang seharusnya,” jelasnya.

BRIN juga memberikan opsi bagi peneliti yang lanjut usia, mereka tetap akan diberikan kesempatan untuk melanjutkan study hingga S3. Karena pihaknya tidak membatasi usia. “Di BRIN yang mau pensiun tapi mau studi boleh, karena setelah pensiun nanti masih bisa mengajar di kampus, justru ini menjadi bekal mereka dan lebih banyak kontribusi kepada masyarakat meski sudah pensiun,” bebernya.

Di sisi lain, Handoko juga memastikan dengan hadirnya BRIN sebagai regulator yaitu pembuat policy sekaligus lembaga riset pemerintah. Pihaknya akan melakukan pengelolaan kelembagaan dan organisasi yang jauh lebih baik dan efisien. Hal ini karena pengelolaan akan berbasis fungsional bukan lagi struktural.

“Dengan adanya BRIN kita memiiliki instrumen fasilitas infrastruktur, dan anggaran untuk memperkuat riset, dan membuka open platform untuk melakukan riset tanpa punya alat. Itu tidak mungkin dilakukan oleh Kemenristek sebelumnya, dengan begitu masalah fundamental riset ini bisa kami selesaikan dengan efesien,” jelasnya.

Handoko juga memastikan proyek riset eks lembaga eijkman akan dilanjutkan. Menurutnya jika selama ini eijkman bekerja sendirian. Setelah diintegrasikan otomatis, para peneliti eijkman akan memiliki banyak kawan baru dari eks lembaga riset termasuk juga dari Balitbangkes. Sehingga akan lebih mudah dalam melakukan kolaborasi riset.

Sebagai contoh misalnya, untuk penelitian vaksin merah putih akan dilanjutkan bahkan menjadi target utama BRIN. Sejak dari awal ada 7 tim yang mengembangkan vaksin merah putih, dua tim diantaranya itu ada dari eks LBM Eijkman. BRIN akan melakukan penguatan tim pengembangan vaksin merah putih tersebut. 

“Kami akan meyediakan infrastruktur yang jauh lebih lengkap. Seperti pengujian kepada hewan mamalia. Fasilitas itu yang belum proper. Sehingga ada keterlambatan pengembangan vaksin merah putih. Ini kami memaklumi karena belum pernah ada yang melakukan riset vaksin sebelumnya. Yang penting kami memfasilitasi sampai mencapai target sehingga sesuai dengan standar keselamatan dan efikasi-nya,” jelasnya.

Perlu diketahui, selama ini lembaga eijkman merupakan unit proyek di bawah Kemenristek sejak tahun 1992. Saat dilakukan integrasi lembaga riset, masalah ini diselesaikan dengan melembagakan menjadi Pusat Riset Biologi Molekuler (PRBM) Eijkman. Ini dilakukan untuk penguatan kelembagaan dengan kepastian payung hukum, status pegawai dan hak finansial bagi periset didalamnya.

“Ini untuk penguatan eijkman, karena selama ini dibawah Kemenristek, statusnya itu adhoc/unit proyek, jadi kapanpun bisa ditutup. Maka untuk memastikan kesinambungan riset di eks LBM Eijkman ini, kami lembagakan menjadi PRBM Eijkman agar menjadi permanenen dan mempunyai payung hukum yang jelas,” tutup Handoko. (jml)