SIARAN PERS
Nomor : 59/SP/HM/BKKP/V/2021

Jakarta – Pandemi Covid-19 belum berakhir dan masih harus mendapatkan perhatian serius oleh seluruh masyarakat dunia. Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kepala BRIN) Laksana Tri Handoko (LTH) menjelaskan pembentukan BRIN oleh Presiden pada 28 April 2021 lalu, memiliki tiga arahan utama pembentukan BRIN, yaitu sebagai konsolidasi sumber daya iptek, menciptakan ekosistem riset standar global terbuka dan kolaboratif, serta menciptakan fondasi ekonomi berbasis riset yang kuat dan berkesinambungan. Oleh karena itu LTH menyampaikan kegiatan penelitian, pengembangan, pengkajian dan penerapan (Litbangjirap) harus dapat melahirkan invensi dan Inovasi untuk turut memberi solusi penanggulan pandemi Covid-19.

“Selama satu tahun pandemi ini tentu memberikan pelajaran yang sangat banyak bagi kita semua, termasuk teman-teman di LPNK dan Perguruan Tinggi, bagaimana upaya kita selama ini melakukan hilirisasi. Kita harus fokus menciptakan ekosistem riset dan inovasi yang baik guna menjadi pondasi Indonesia maju,” ujar LTH saat hadir sebagai pembicara kunci pada webinar ‘Ekosistem Inovasi Teknologi Penanganan Covid-19 : Peta dan Upaya Penguatannya’ yang diselenggarakan secara daring oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Rabu (19/5).

Selanjutnya LTH menyampaikan bahwa riset dan pengembangan terkait vaksin dan alat deteksi Covid-19 masih akan menjadi fokus utama BRIN di tahun ini. Namun hal tersebut tidak menutup kemungkinan untuk tetap mendukung penelitian potensial lainnya agar tetap berjalan. LTH berharap para peneliti dan perekayasa bisa bahu membahu untuk membantu dan mendukung upaya bersama upaya bersama penanganan Covid-19 di Indonesia.

“Pada tahun ini kita akan fokus pada vaksin serta alat deteksi screening. Ini masih dilanjutkan pada tahun ini. Presiden Jokowi sudah mengarahkan agar BRIN terus fokus mendukung pengembangan vaksin dari sisi riset. Dengan BPPT (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi) kita menginisiasi dan konsolidasi para periset kita,” jelas LTH.

Dalam rangka memperingati 113 tahun Kebangkitan Nasional dan memperingati satu tahun Presiden Jokowi meluncurkan produk-produk inovasi Task Force Riset dan Inovasi Teknologi Penanggulangan Covid-19 (TFRIC-19) yang dimotori BPPT beserta mitra penta helix-nya, maka BPPT menyelenggarakan webinar bertajuk: “Ekosistem Inovasi Teknologi Penangangan Covid-19: Peta dan Upaya Penguatannya”.

Kepala BPPT Hammam Riza mengungkapkan pandemi Covid-19 mengakibatkan krisis kesehatan, pendidikan, serta ekonomi. Namun pandemi juga menjadi berkah dalam kemandirian pemulihan pasca pandemi Covid-19, yakni melalui percepatan ekosistem teknologi dalam negeri. Hammam berharap seluruh pemangku kepentingan akan berkolaborasi membangun ekosistem inovasi dan terknologi untuk menjadi otak pemulihan ekonomi Indonesia pasca pandemi.

“Saya ingat seluruh LPNK itu berusaha merespon dengan menghadirkan berbagai produk inovasi karya anak bangsa dan secara khusus membentuk TFRIC untuk menghadirkan inovasi teknologi Covid-19. Ekosistem inovasi ini merupakan wujud dari arahan presiden untuk menjadi otak pemulihan ekonomi,” terang Hammam.

Sejak Presiden RI menyatakan secara resmi kasus positif Covid-19 pertama di Indonesia pada 2 Maret 2020, BPPT dengan cepat merespon dengan menggandeng seluruh komponen masyarakat untuk bersatu bersama-sama berkarya untuk mengatasi Covid-19. Task Force Riset dan Inovasi Teknologi Penanganan Covid-19 (TFRIC-19) menjadi media dan sarana menggali ide, merumuskan program dan mewujudkan produk-produk inovasi teknologi untuk penanganan Covid-19 dengan cepat, dengan semangat kebersamaan dan gotong royong yang ikhlas dan kuat.

Tanggal 20 Mei 2020 merupakan milestone kebangkitan inovasi teknologi dan wujud terbangunnya ekosistem inovasi teknologi untuk mengatasi pandemi Covid-19. Presiden RI Joko Widodo memberikan apresiasi dan meluncurkan beberapa produk inovasi TFRIC-19, yaitu Produk Rapid Test Diagnostik, PCR tes kit, Ventilator darurat, dan mobile laboratory BSL2. Selain itu TFRIC-19 juga telah memberikan karya nyata untuk memperkuat Whole Genome Sequencing, mengembangkan Biosensor SPR, aplikasi Artifivial Intelligence untuk deteksi Covid-19 dan beberapa produk inovasi teknologi lainnya.

Webinar ini memaparkan tiga hasil kajian awal di Kedeputian Kebijakan Teknologi BPPT tahun 2021. Hadir sebagai Narasumber pada Webinar ini :

  1. Dr. Ir. Iwan Sudrajat, MSEE, Direktur Pusat Teknologi Kawasan Spesifik dan Sistem Inovasi BPPT, dengan topik ‘Peta Ekosistem Inovasi TFRIC-19’. Kajian pemetaan ekosistem inovasi teknologi produk-produk inovasi untuk penanganan Covid-19 yang telah diluncurkan Task Force Riset dan Inovasi Teknologi Covid-19 (TFRIC-19) pada tahun 2020. Peta ekosistem inovasi sebagaimana dijelaskan Iwan Sudrajat adalah upaya menggambarkan secara visual tentang ekosistem inovasi, siapa saja aktor yang terlibat, apa perannya, bagaimana pola interaksi yang terbangun, dan bagaimana upaya atau rekomendasi untuk keberlanjutan ekosistem inovasi tersebut. Kajian Penguatan Ekosistem Inovasi Teknologi Alat Kesehatan yang dilakukan PTKSSI-BPPT ini mengkaji secara holistik TFRIC-19 tahun 2020 yang berhasil menelorkan produk-produk Rapid Diagnostic Test RI-GHA, MBSL-2 dan Ventilator Emengency dalam waktu yang relatif singkat. Kajian ini mengungkap WHY dan HOW TFRIC-19 berhasil menghasilkan Invensi Produk Alat Kesehatan ini, namun menemui beberapa tantangan yang berat didalam proses Difusi produk tersebut ke pasar.
  2. Dr. Ir. Adiarso, MSc , Direktur Pusat Pengkajian Industri Proses dan Energi BPPT, dengan topik ‘TKDN dan Klaster Industri Untuk Meningkatkan Daya Saing Produk Inovasi’. Pada paparannya Adiarso menyajikan tentang upaya mendukung kemandirian bangsa melalui kajian TKDN. Kajian ini sangat penting guna mengetahui seberapa jauh capaian komponen dalam negeri dari hasil inovasi anak bangsa. Pelajaran dari kajian TKDN Garam Terintegrasi contohnya, jika sebagian besar material pabrik diimpor TKDN hanya tercapai 25%, bila didukung oleh industri dalam negeri potensi TKDN dapat mencapai 71,1%. Maka rekomendasi yang diusulkan antara lain dengan mendorong produk inovasi masuk ke dalam e-katalog produk inovasi, memperkuat potensi TKDN dan pengembangan Klaster Industri Produk Inovasi, serta peningkatan status kesiapan produk inovasi (Katsinov).
  3. Dr. Ir. Andhika Prastawa, MSEE, Direktur Pusat Pengkajian Industri Manufaktur Telematika dan Elektronika BPPT, dengan topik ‘ Supply-Demand Produk Kesehatan dan Difusi Inovasi Teknologi’. Dalam paparannya Andika Prastawa menguraikan tentang kebutuhan ( demand) produk kesehatan alkes yang saat ini sebagian besar atau lebih dari 90% disuplai oleh produk yang berasal dari impor. Kajian ini mengangkat perlunya dukungan terhadap riset dan inovasi untuk membuat produk kesehatan sebagai upaya mengurangi ketergantungan pada produk impor/mensubstitusi produk impor dan membangun kemadirian.

Bertindak sebagai moderator Dr. Gatot Dwianto, Deputi PKT BPPT; dan penanggap Dr. I Gede Made Wirabrata, S.Si., Apt., M.Kes., M.M., Direktur Penilaian Alat Kesehatan dan Perbekalan Kesehatan Rumah Tangga Kementerian Kesehatan.

Turut hadir dalam kesempatan ini Kepala BPPT Hammam Riza, Kepala BATAN Anhar Riza A, undangan stakeholder terkait dan undangan lainnya.


Biro Kerja Sama dan Komunikasi Publik
Badan Riset dan Inovasi Nasional