Jakarta – Humas BRIN. Kontribusi sektor pertanian di Indonesia terhadap Pendapatan Domestik Bruto (PDB), cukup besar, mencapai 13 persen. Sehingga sektor pertanian sangat penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Plt Direktur Pendanaan Riset dan Inovasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ajeng Arum Sari menyebutkan kebutuhan riset dan pasar pertanian cukup besar dan akan terus bertumbuh.

Menurutnya, pertanian membutuhkan cara inovatif berbasis teknologi modern untuk meningkatkan efesiensi proses produksi dan meningkatkan kualitas. “BRIN mencoba untuk berperan terhadap pertanian, melalui skema open platform yang terbuka bagi semua orang, baik periset BRIN, Perguruan Tinggi, Industri dan UMKM, dan Komunitas Masyarakat,” ungkapnya dalam “Sosialisasi Program Fasilitasi Pengujian Produk Inovasi Pertanian”, Rabu (22/6).

Dijelaskan Ajeng, BRIN membuka skema fasilitasi riset pertanian mulai dari riset murni dengan memanfaatkan anggaran rumah program dan juga skema program Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM). “Riset murni ini fokus pada penciptaan teknologi kunci yang perlu dibuktikan secara ilmiah,” sebutnya.

Setelah terbukti secara ilmiah, riset tersebut dapat dilanjutkan dengan pengujian. Di sinilah, peran skema pengujian produk inovasi pertanian (PPIP). Dimana, untuk skema PPIP ini, anggaran tidak diberikan kepada perisetnya. Akan tetapi diberikan kepada lembaga uji yang ditetapkan oleh regulasi yang berlaku. “Karena pengujian ini butuh waktu, bahkan sampai bertahun-tahun, durasinya bisa tahun jamak sampai 7 tahun,” sebut Ajeng.

Produk yang dapat difasilitasi dalam skema ini yaitu berupa inovasi pertanian, peternakan dan perikanan. Diantaranya bibit unggul tanaman holtikultura, tanaman pangan, tanaman perkebunan, pakan ternak, pupuk, pestisida, pakan ikan, obat dan vaksin hewan, benih ikan, rumpun/galur ternak dll.

Tata cara pengajuan proposal dapat dibuka melalui website https://pendanaan-risnov.brin.go.id/, dan memilih skema sesuai dengan membuat akun terlebih dahulu, untuk bisa meng-upload dan men-submit proposal. Selanjutnya, pendaftar dapat mengisi dan memenuhi berkas yang dipersyaratkan, seperti dokumen publikasi, Hak Kekayaan Intelektual/paten, borang persetujuan keikutsertaan, dan proposal mendapat persetujuan yang dibuktikan dengan tandatangan kepada institusi.

“Kami membuka open proposal skema fasilitasi pengujian produk inovasi pertanian untuk seleksi gelombang satu sampai tanggal 22 Juli 2022,” sebutnya.

Skema Fasilitasi Pengujian Produk Inovasi Pertanian (PPIP) ini sendiri akan berkolaborasi dengan Deputi Pemanfaatan Riset dan Inovasi untuk menggandeng calon mitra Industri. Plt Direktur Pemanfaatan Riset dan Inovasi pada Industri BRIN, Dwie Irmawaty Gultom mengatakan setelah lolos seleksi adminstrasi, pihaknya akan memastikan produk inovasi sesuai dengan regulasi yang berlaku dan demand market dengan menggandeng industri.

“Mitra industri berkontribusi dalam melakukan pendafataran dan pelepasan, dan mem-provide dan mempersiapkan dokumen teknis untuk masing-masing produk pengujian, tentu saja juga untuk memproduksi produk secara terbatas sebagai sample dan pembanding untuk pengujian,” jelasnya.

Setelah pengujian selesai, dan mendapatkan nomor pelepasan/izin. Selanjutnya, mitra industri dapat melakukan komersialisasi dengan produksi massal. Industri juga yang berperan dalam mengurus izin edar. “Karena ini produk hasil riset dan inovasi akan dilakukan kerjasama lisensi dengan industri,” ungkapnya. (jml)

Sebarkan