Jakarta-Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), memiliki tujuh kedeputian. “Kedeputian Bidang Fasilitasi Riset dan Inovasi, kalau di perusahaan adalah deputi investor. Deputi yang memfasilitasi pendanaan, kekayaan intelektual, dan lain-lain,” ujar Plt. Deputi Fasilitasi Riset dan Inovasi, Agus Haryono seraya tersenyum.

“Sekarang terdapat 9 skema yang difasilitasi oleh kedeputian ini, dan setiap tahun akan terus meng-create skema-skema baru. Termasuk merchant fund, dengan funding agency dari luar negeri,” jelas Agus Haryono, Plt. Deputi Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN. Hal tersebut ia sampaikan, saat diwawancara oleh Indy Barends, beberapa waktu lalu dalam Podcast ‘Di Atas Meja Makan’.

Agus melanjutkan, pada setiap skema pendanaan ada persyaratan, dan masing-masing syarat tersebut, tergantung tujuan dari skemanya. Seperti skema start up berbasis riset, syaratnya harus menggandeng periset BRIN. “Kita tidak ingin kecolongan, apabila hasil risetnya itu melanggar etika, perizinan, dan sebagainya. Jadi periset BRIN harus bersama-sama mendorong riset start up tersebut,” ungkapnya.

Salah satu syarat, untuk mengajukan proposal flagship riset prioritas nasional, sebagai pengusul dia harus berpendidikan S3. Bagi skema pengujian produk inovasi kesehatan, seperti obat, vaksin, dan alat-alat Kesehatan, sebelum menuju ke izin edar, harus ada uji-uji tertentu.

“Fasilitasi uji-uji tersebut termasuk uji klinis, dan pra klinis, meskipun pembiayaannya puluhan milyar kita fasilitasi, dan harus menggandeng industri. Akhirnya sharing pendanaan, dan fasilitas industri dengan BRIN. Kami meminta industrinya, untuk berkomitmen memasarkan hasil riset tersebut,” lanjutnya.

Menurut Agus, apabila saat uji klinis dan pra klinis, ternyata setelah diuji oleh Badan POM obat tersebut tidak ampuh, tidak ada masalah. BRIN tidak meminta pertanggungjawaban secara administrasi, yang penting pelaksanaannya secara scientific, dilakukan dengan benar.

“Skema-skema fasilitasi yang tersedia, sifatnya terbuka untuk masyarakat seluruh Indonesia, meskipun ada syarat-syaratnya untuk masing-masing skema pendanaan tersebut. Bagi masyarakat yang ingin bergabung bisa membuka website www.pendanaan-risnov.brin.go.id,” ucapnya. 

Untuk menarik minat masyarakat tentang kegiatan ini, BRIN menyosialisasikannya dengan melakukan berbagai kegiatan, seperti melalui webinar, media sosial, dan workshop dengan tatap muka. Selama ini masyarakat belum memahami, khususnya kegiatan yang spesifik, seperti fasilitasi hari layar.”Khusus untuk hari layar, kami bertemu langsung dengan fakultas kelautan, dan perikanan, kemudian diberikan sosialisasi. Hal ini dilakukan karena masih sedikit peminatnya, karena skema yang ditawarkan BRIN masih baru,” jelas Agus.

Lebih jauh Agus menerangkan, rencana BRIN ke depan ingin mengangkat success story pengusul yang berhasil, dengan begitu nanti masyarakat akan tertarik untuk ikut serta. “Kisah sukses pendanaan riset untuk start up, kita  angkat. Ternyata setelah itu banyak pendaftar, sebelumnya hanya ada 15 peserta dari seluruh Indonesia. Setelah kita angkat, pada gelombang kedua meningkat sampai 175 pendaftar.

Lebih lanjut Agus menjelaskan, terdapat dua sumber pendanaan BRIN. Pertama, dari APBN rupiah murni, di Deputi Fasilitasi Riset dan Inovasi BRIN ada 190 M. Kedua, terdapat dana abadi penelitian. Artinya Kementerian Keuangan menyimpan uang pada dana abadi, dan imbal hasilnya itu digunakan untuk penelitian. “Tahun ini besarannya 575 M, kita alokasikan untuk berbagai skema ini,” tuturnya.

Dirinya menegaskan, bahwa kita tidak didoronguntuk menghabiskan uang itu, tapi kita didorong untuk mempertahankan standar kualitas proposal yang akan kita terima. Meskipun proposalnya banyak tapi kualitasnya rendah, BRIN tetap memilih yang terbaik.

“Tips agar sukses mendapat pendanaan dari BRIN, yang paling penting adalah rekam jejak sebagai bukti hasil kerja pengusul. Harus dibuktikan dalam proposalnya, yang bersangkutan sudah lama mengerjakan proposalnya, bukan yang instan. Kemudian output yang dijanjikan, semakin tinggi output yang dijanjikan, tentu kita sebagai investor akan tertarik untuk membiayai,” terang Agus.

Selain pendanaan, ada juga program akuisisi pengetahuan lokal, yaitu program BRIN untuk menghargai hasil-hasil audio visual, dan buku-buku, yang memuat konten ilmu pengetahuan, dibeli oleh BRIN. “Selanjutnya, disebarluaskan kepada masyarakat, melalui media sosial dan website BRIN. Meskipun hasil karya mereka sudah dibeli oleh BRIN, nggak usah khawatir mereka tetap dapat menyebarluaskan sendiri hasil karyanya,” beber Agus.

“Audiovisual dan buku-buku tersebut dinilai, dan diberi peringkat. Peringkat A yang paling tinggi,  diberi nilai Rp. 20 juta, sedangkan untuk peringkat yang paling rendah mendapatkan imbalan Rp. 6 juta. Penilainya merupakan para ahli yang berkompeten di bidang nya masing-masing,” sebutnya.

Skema pendanaan BRIN, dibuka sepanjang tahun, dan dibagi ke dalam beberapa gelombang. Terbuka untuk masyarakat seluruh Indonesia yang mau bergabung dengan BRIN untuk didanai. “Kita ingin mencari ide-ide yang terbaik, proposal-proposal riset yang terbaik untuk didanai. Kita memiliki anggaran yang cukup besar, jangan disia-siakan. Kesempatan bagi para periset, anak-anak muda yang kreatif yang mau membuat start up, silakan untuk memanfaatkan fasilitas ini,” harap Agus. (ns/ ed: drs)

Sebarkan