Yogyakarta – Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Balai Penelitian Teknologi Bahan Alam (BPTBA) membangun fasilitas riset pengelolaan pangan tradisional terintegrasi berstandar cGMP atau Traditional Food GMP Facility (TFGF). Pembangunan ini menggunakan skema Surat Berharga Syariah Negara (SBSN) di tahun 2020-2021. 

“Saat ini proses pembangunan fasilitas TFGF di BPTBA sudah selesai, tinggal memasuki masa pemeliharaan dan penataan peralatan laboratorium,” ujar Plt. Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Teknik, Agus Haryono pada kunjungan kerja di BPTBA BRIN Kamis, (13/1/2022).

Secara aktif Agus mengawal proses pembangunan fasilitas SBSN TFGF dari masa perpindahan hingga pemanfaatan fasilitas tersebut nantinya bagi periset BRIN. “Di masa integrasi ini, penting untuk melihat kesiapan penataan lingkungan kerja yang kondusif bagi periset BRIN, agar tetap produktif,” jelas Profesor bidang kimia makromolekul tersebut.

Pembangunan fasilitas SBSN TFGF ini bernilai penting bagi pengembangan riset pengemasan dan riset halal di BRIN. “Program unggulan BPTBA BRIN adalah pengembangan teknologi dan proses pangan, yang di dalamnya terdapat teknologi pengemasan produk pangan dan riset halal. Dengan adanya dukungan fasilitas laboratorium yang lebih lengkap, diharapkan hasil riset kami dapat termanfaatkan secara maksimal,” terang Plt. Kepala Kantor BPTBA, Satriyo Krido Wahono.

Menurutnya, riset halal yang nantinya ada di BPTBA telah  mendapat dukungan banyak pihak, termasuk Wakil Presiden RI Ma’aruf Amin. “Wapres mendorong BRIN mewujudkan adanya pusat riset halal, selain itu adanya factory sharing pengalengan juga menjadi penanda adanya penerapan sertifikasi halal pada produk pangan yang dihasilkan oleh UKM,” tambah Satriyo.

Fasilitas TFGF terdiri dari laboratorium dan instrumen pendukung. “Total ada empat gedung yang dibangun, yaitu gedung co-working space, gedung laboratorium terpadu, gedung pengujian in-vivo, dan gedung proses cGMP,” jelas Safitri Widodo, pengelola fasilitas laboratorium di BPTBA BRIN. 

Ia menambahkan, pada masing-masing gedung tersebut dilengkapi dengan fasilitas laboratorium yang spesifik.

“Nantinya akan ada beberapa fasilitas laboratorium diantaranya Lab Biomolekuler, Lab Mikrobiologi Pangan, dan Lab Mikologi Pangan yang akan mendukung riset halal. Sedangkan pada gedung proses cGMP dilengkapi line cGMP pengemasan, line proses produksi dan pengolahan kakao/kopi, proses penepungan, line proses produksi mie, Lab pengembangan produk (kering, fermentasi, daging, minuman), dan Lab Sensoris,” paparnya.

Sedangkan di gedung laboratorium terpadu, menurut Widodo, akan difungsikan sebagai Lab material kemasan, stabilitas pangan, keamanan pangan, kimia pangan, fisika pangan, dan rekayasa pangan. “Sementara fasilitas gedung pengujian in-vivo dimanfaatkan untuk pengujian produk yang dihasilkan, khususnya pada hewan coba berupa mencit; selain dilengkapi juga lab riset terkait dengan ayam dan sapi,” tegasnya. (Ky Mn)