Bali – Humas BRIN. Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama dengan Kemenko PMK, Kemendagri, Kemendikbud, Kemenparekraf, Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, Dan Transmigrasi, Perpustakaan Nasional, dan Pemprov Bali bersinergi dalam rangka Pengembangan Literasi dan Inovasi Berbasis Desa di Bali di Ubud pada (22/06)

I Gede Nala Antara selaku Anggota Kelompok Ahli Pembangunan Provinsi Bali mengatakan bahwa Bali memiliki potensi peradaban yang besar. Menurutnya, salah satu hal dasar yang menjadikan Bali memiliki dasar potensi peradaban yang kuat karena Bahasa Bali memiliki aksara tersendiri. “Dari banyaknya bahasa daerah yang ada di Indonesia, bahasa Bali merupakan salah satu yang memiliki aksara,” ujarnya.

“Aksara merupakan salah satu sarana berkomunikasi, oleh karena itu inovasi berupa apilikasi digital dengan menggunakan aksara bali dapat dikembangkan dalam rangka pendidikan Aksara Bali,” ujar Nala.

Didik Suhardi selaku Deputi Bidang Koordinasi Revolusi Mental, Pemajuan Kebudayaan dan Prestasi Olahraga dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan mengungkapkan bahwa dengan Gerakan Nasional Revolusi Mental, diharapkan dapat memberikan dampak yang positif kepada masyarakat.

“Literasi dan inovasi akan menaikkan kerja sama dan meningkatkan etos kita dalam bekerja. Selain itu kita juga harus dapat bergotong royong dalam bekerja dan memiliki integritas diri yang kuat,” tambah Didik.

Eko Prasetyanto sebagai Kepala Badan Strategi Kebijakan Dalam Negeri Kementerian Dalam Negeri menyampaikan bahwa inovasi merupakan hal yang sangat penting. Inovasi menciptakan nilai yang sangat besar bagi masyarakat. Inovasi merupakan strategi dalam upaya meningkatkan kesejahteraan dan kualitas hidup masyarakat. Inovasi dapat memberikan kontribusi global untuk membantu memecahkan tantangan terbesar dunia.

“Inovasi membutuhkan sinergi antara penghasil inovasi, regulator dan fasilitator, pemerintah, perguruan tinggi, dan industri / dunia usaha. Inoviasi juga membutuhkan kolaborasi, kerjasama, kompetensi, dan juga kordinasi,” tambah Eko.

Dadan Nugraha selaku Direktur Pemanfaatan Riset dan Inovasi K/L, Masyarakat, dan UMKM Badan Riset Dan Inovasi Nasional mengatakan bahwa BRIN ingin menciptakan ekosistem yang beknologi dan invovasinya bisa diakses oleh masyarakat.

“Jika ada kebutuhan berupa kebutuhan SDM ataupun fasilitas riset terutama yang berkait dalam pembangunan desa, silahkan menghubungi BRIN jika ingin melakukan kolaborasi. Skema fasilitasi juga kita dorong di BRIN, bentuknya adalah pendanaan dalam riset dan fasilitasi untuk melakukan riset. BRIN mendorong bagaimana kebijakan yang lahir muncul berdasarkan hasil riset sehingga benar-benar berdampak kepada masyarakat,” pungkas Dadan.

Dadan juga menambahkan, “Untuk pelaku usaha kita juga sudah memiliki skema agar mereka dapat berinovasi dan mendorong pihak eksternal untuk dapat berinvestasi kepada pelaku usaha. Kolaborasi sangat diperlukan khususnya antara instansi pemerintah dan masyarakat sipil, kami berharap agar inovasi dan iptek dapat menjadi tulang punggung bagi ekonomi Indonesia kedepannya.”

“Pembedaan dari BRIN adalah aspek bagaimana intervensi teknologi di UMKM, dengan menyediakan solusi teknologi yang dapat diberikan kepada UMKM. Tentu saja dengan berkolaborasi dengan sesama agenda UMKM dengan K/L lain.” paparnya.

Menurut Dadan, BRIN dapat membantu pelaku usaha mikro yang terkendala dalam pemanfaatan teknologi yang dibutuhkan usaha mikro dalam mengembangkan bisnisnya. Bantuan yang diberikan seperti pada proses bisnis, proses produksi, atau pengujian produk.

“Tujuan akhir tentu saja mengubah paradigma pembangunan. Dari ekonomi yang berbasis sumber daya alam menjadi ekonomi yang berbasis teknologi. Dengan memanfaatkan teknologi kita bisa memberikan nilai tambah dari sumber daya alam.” jelas Dadan. (igp/ ed:drs)

Sebarkan