SIARAN PERS
BADAN RISET DAN INOVASI NASIONAL
Nomor :  183/SP/HM/BKPUK/XI/2021

Peneliti bidang Zoologi dari Museum Zoologicum Bogoriense (MZB)-Pusat Riset Biologi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Raden Pramesa Narakusumo dan peneliti dari Natural History Museum Karlsurhe, Dr. Alexander Riedel menemukan 28 kumbang moncong (Insecta: Coleoptera: Curculionidae) jenis baru dari genus Trigonopterus di pulau Sulawesi. Penemuan jenis baru tersebut menggenapi temuan mereka sebelumnya, yaitu 103 jenis kumbang Trigonopterus di tahun 2019, sehingga total jumlah Trigonopterus yang telah terdiskripsi di pulau Sulawesi menjadi 132 jenis.

Penemuan kumbang moncong ini menjadi sangat penting sebagai langkah untuk terus mendapatkan informasi dan inventarisasi jenis fauna, khususnya serangga di Indonesia. “Temuan jenis baru menjadi penting bagi kepentingan bangsa dan negara, karena sebagian besar biodiversitas kita masih belum ada yang meneliti dan potensinya begitu banyak. Selain itu studi taksonomi dan sistematika adalah fondasi awal bagi studi lanjutan seperti konservasi hingga bioprospeksi,” ujar Kepala Pusat Riset Biologi BRIN, Anang Setiawan Achmadi.

Pramesa menuturkan, mayoritas lokasi penemuan kumbang moncong berasal dari Gunung Dako dan Gunung Pompangeo, Sulawesi Tengah. “Kami melakukan analisis fragmen DNA mitokondria “barcode”, COX I, kemudian juga melakukan analisis komparasi morfologi terutama dengan cara diseksi genitalia dan juga makrofotografi beresolusi tinggi sebelum menarik kesimpulan delineasi atas jenis-jenis baru tersebut, “ ungkap Pramesa.

Dirinya meyakini temuan jenis-jenis baru yang telah dipublikasikan pada Zookeys bulan Oktober 2021 hanya sebagian dari keseluruhan jenis Trigonopterus di pulau Sulawesi. “Kumbang Trigonopterus merupakan kumbang moncong yang tidak dapat terbang dan tinggal di lokasi-lokasi terisolir di hutan pegunungan dan telah berevolusi secara cepat selama jutaan tahun, sehingga tingkat endemisitas dan biodiversitasnya sangatlah tinggi,” imbuh Pramesa.

Beberapa penamaan unik diberikan kepada ke-28 jenis baru tersebut. Salah satu diantaranya diberi nama Trigonopterus gundala yang terilhami dari warna tubuh kumbang yang mirip dengan tokoh superhero Indonesia “Gundala Putra Petir”, lalu Trigonotperus unyil-karena salah satu jenis kumbang memiliki tubuh yang sangat kecil dibandingkan jenis lainnya. Selain itu, ada juga kumbang yang diberi nama Trigonopterus moduai, namanya diilhami dari nama tarian khas Toli-toli, kemudian Trigonopterus ewok yang namanya diambil dari tokoh fiksi film Star Wars, serta Trigonopterus corona sesuai waktu ditemukannya jenis baru, yaitu saat pandemi Covid-19 melanda negeri.

“Penamaan unik tersebut diberikan karena memberikan nama pada jenis-jenis baru yang berjumlah ratusan menjadi tantangan tersendiri, karena nama setiap jenis tidak boleh sama seperti dijelaskan oleh International Code of Zoological Nomenclature”. Oleh karena itu selain menggunakan penamaan jenis dari karakter ataupun nama lokasi dapat juga menggunakan nama-nama unik seperti nama dari tokoh fiksi, tarian daerah ataupun nama tokoh,” tutup Pramesa.

Foto 28 kumbang moncong jenis baru Sulawesi dapat diakses melalui tautan berikut: https://s.id/Foto28kumbangmoncongsulawesi

Keterangan Lebih Lanjut:
Raden Pramesa Narakusumo (Peneliti BRIN): +49 176 75952424
Dyah R. Sugiyanto (Koordinator Komunikasi Publik BRIN): 0813-1649-2142
Biro Komunikasi Publik, Umum, dan Kesekretariatan
Badan Riset dan Inovasi Nasional

Caption: Trigonopterus Corona
Caption: Trigonopterus ewok
Caption: Trigonopterus gundala
Caption: Trigonopterus moduai
Caption: Trigonopterus unyil